Bagaimana Teknologi Mengubah Pasar Tenaga Kerja Asia Timur-Pasifik?

Ilustrasi otomatisasi industri. (Freepik)

Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Robot dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah wajah pasar tenaga kerja. Ia telah membuka peluang baru, sekaligus menimbulkan tantangan yang belum pernah ada sebelumnya.

Di banyak negara Asia Timur dan Pasifik, terutama Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, tenaga kerja masih banyak berada di sektor manufaktur dengan pekerjaan manual rutin. Pekerjaan jenis ini sangat rentan tergantikan robot industri.

Seiring pertumbuhan biaya tenaga kerja, adopsi robot meningkat, terutama di sektor peralatan listrik, dan sektor otomotif di negara dengan upah lebih tinggi. Robot murah di sektor karet dan plastik mulai menggantikan pekerja di negara berpendapatan rendah.

AI Mengubah Pekerjaan Kognitif

Struktur tugas pekerjaan, Asia Timur dan Pasifik dan negara maju.

Tidak hanya robot, AI kini menantang pekerja di sektor jasa. AI mampu melakukan tugas kognitif nonrutin, seperti analisis data atau layanan pelanggan.

Negara seperti Tiongkok dan Malaysia memiliki proporsi pekerja yang tinggi dalam pekerjaan jenis ini, sehingga mereka berpotensi mendapatkan manfaat produktivitas dari bantuan AI dan bukan sekadar digantikan olehnya.

Penyebaran teknologi baru berdampak berbeda tergantung faktor ekonomi dan demografi. Di beberapa negara Asia Timur dan Pasifik, jumlah orang yang memasuki usia kerja mulai berkurang karena populasi menua. Akibatnya, tersedia lebih sedikit tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Namun, manfaat teknologi tidak otomatis dirasakan semua orang. Pekerja dengan keterampilan tinggi dan pendidikan yang baik cenderung lebih mudah memanfaatkan peluang baru yang muncul, sementara pekerja di sektor informal atau dengan keterampilan rendah bisa tertinggal.

Selain itu, kesenjangan upah gender dan perbedaan akses pendidikan bisa diperlebar oleh teknologi jika tidak diimbangi kebijakan inklusif. Di sisi lain, digitalisasi dan AI bisa meningkatkan produktivitas pekerja muda dan perempuan jika akses dan pelatihan dikelola dengan baik.

Masa Depan Kerja di Asia Timur dan Pasifik

Transformasi pasar tenaga kerja di Asia Timur dan Pasifik adalah kombinasi antara manusia dan mesin. Pekerja di sektor informal, jasa berproduktivitas rendah, dan manufaktur tradisional perlu bersiap menghadapi perubahan ini.

Negara-negara di Asia Timur Pasifik yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan pelatihan keterampilan baru, pendidikan yang lebih merata, dan kebijakan perlindungan sosial yang adaptif akan memetik manfaat terbesar.

Berdasarkan publikasi PEKERJAAN DI MASA DEPAN, Robot, Kecerdasan Buatan, dan Platform
Digital di Asia Timur dan Pasifik oleh World Bank, adopsi robot di kawasan Asia Timur dan Pasifik tidak merata. Negara-negara berpendapatan lebih tinggi, seperti Malaysia dan Thailand, memimpin dalam penggunaan robot, terutama di sektor komputer dan elektronik, otomotif, serta peralatan listrik.

Sementara itu, Tiongkok dan Vietnam menunjukkan peningkatan adopsi sejak 2010, sedangkan Indonesia dan Filipina masih relatif tertinggal, dengan konsentrasi robot lebih banyak di sektor karet dan plastik.

Perbedaan ini mencerminkan kombinasi struktur pekerjaan dan biaya tenaga kerja. Negara dengan upah tinggi memiliki lebih banyak pekerjaan yang dapat diotomatisasi, sedangkan di negara dengan upah rendah, manfaat ekonomi dari otomatisasi masih terbatas.

Pekerjaan jasa juga menghadapi perubahan yang signifikan. Tugas-tugas rutin, seperti layanan pelanggan, lebih mudah diotomatisasi dibanding tugas nonrutin yang dilakukan profesional dan manajer.

Dengan meningkatnya biaya tenaga kerja seiring kemajuan ekonomi, semakin banyak lapangan pekerjaan yang akan terpapar teknologi baru, terutama di manufaktur dan jasa rutin. Hal ini menunjukkan bahwa otomatisasi tidak hanya menggeser pekerjaan manual, tetapi juga mulai memengaruhi pekerjaan kognitif yang sebelumnya dianggap aman.

Dampak teknologi terhadap pasar tenaga kerja bersifat ganda. Di satu sisi, adopsi robot dan AI meningkatkan produktivitas perusahaan, mendorong pertumbuhan produksi, dan membuka peluang baru untuk pekerjaan dan kenaikan upah.

Di sisi lain, penghematan tenaga kerja dari otomatisasi bisa mengurangi kesempatan kerja di sektor tertentu. Karena efeknya berbeda-beda berdasarkan usia, jenis kelamin, keterampilan, dan status pekerjaan, teknologi memiliki potensi untuk memperbaiki atau justru memperburuk ketidaksetaraan di pasar tenaga kerja Asia Timur dan Pasifik.

Dengan kata lain, masa depan kerja akan sangat tergantung pada bagaimana negara-negara Asia Timur dan Pasifik mengelola transisi ini melalui pelatihan, kebijakan inklusif, dan akses teknologi yang merata.

Tulisan di atas dikutip dan disarikan dari Publikasi World Bank.

Menarik untuk dibaca

Bagaimana Teknologi Mengubah Pasar Tenaga Kerja Asia Timur-Pasifik?

Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Robot dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah wajah pasar tenaga kerja. Ia telah…

Kala Lensa Kamera Menangkap Isu Kesehatan Mental

Di tengah perbincangan isu kesehatan mental oleh remaja dan meningkatnya kasus perundungan, sekelompok fotografer muda di Kota Surakarta memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka mengambil…

Cuan dari Komedi Sehari-hari

Tak hanya terbatas di atas panggung, komedi kini merambah dunia digital. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memungkinkan para komika untuk menjangkau audiens yang lebih…

Teknologi Pendidikan hingga Daerah Terpencil

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam kebangkitan suatu bangsa. Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan hal ini dalam berbagai kesempatan, menyampaikan bahwa pendidikan adalah kunci…

Mengenal Micro Creative Business, Peluang Anak Muda di Lautan Kreativitas

Micro creative business mengacu pada usaha skala kecil yang mengandalkan unsur kreativitas, ide orisinal, dan keunikan sebagai inti produk atau jasa. Daripada sekadar memproduksi barang…

Sejauh Mana Negara Bangun Pasar dan Ruang Kerja Insklusif?

Masih segar dalam ingatan, video viral Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mewawancarai pemuda penyandang disabilitas fisik berupa dwarfisme (tubuh sangat pendek) bernama Zidan. Pria 20…

Ekonomi Gig Naik Daun

Rp5,1 Triliun Bekal Anak Indonesia Sepanjang Hayat

Masih ada sekitar seperempat anak usia dini di Indonesia yang belum terjangkau layanan PAUD bermutu, sehingga belum memperoleh kesempatan belajar yang setara sejak awal kehidupannya….

Optimisme Pertanian Indonesia Hadapi Perubahan Iklim

Indonesia menunjukkan langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui kolaborasi lintas lembaga yang memperkuat sektor pertanian nasional. Salah satu bentuk sinergi tersebut tampak dalam…

Waspada Deepfake: Ancaman Privasi Hingga Propaganda 

Teknologi deepfake semakin menjadi sorotan karena kemampuannya menghasilkan video atau audio yang sangat realistis, namun sebenarnya rekayasa atau palsu. Pemanfaatan teknologi deepfake pun kini marak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *