Pemerintah menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan petani dan pedagang kecil melalui penyediaan kereta khusus berwarna hijau yang dirancang untuk mempermudah distribusi hasil pertanian dan barang dagangan rakyat.
Desain gerbong kereta khusus petani dan pedagang dibuat menyesuaikan kebutuhan pengguna dari sektor pertanian dan perdagangan tradisional. PT KAI bersama pemerintah melakukan sejumlah penyesuaian agar aktivitas bongkar muat barang menjadi lebih mudah dan nyaman.
Pintu gerbong kini diperlebar dari 800 milimeter menjadi 900 milimeter, memudahkan petani dan pedagang keluar-masuk membawa hasil panen, sayuran, atau barang dagangan berukuran besar. Sekat partisi dihilangkan, sehingga ruang gerak di dalam kereta lebih lapang dan akses pergerakan barang menjadi lancar.
Jumlah kursi juga dikurangi dari 106 menjadi 73 untuk memberi ruang tengah yang lega. Kursi disusun menyamping di sisi kiri dan kanan gerbong agar penumpang dapat menempatkan karung, keranjang, atau boks dagangan di bagian tengah dengan aman. Meski kapasitas duduk dikurangi, fasilitas rak bagasi dan toilet tetap tersedia, memastikan kenyamanan selama perjalanan tetap terjaga.

Penataan kursi gerbong khusus petani dan pedagang. Ada ruang tengah yang lega. (Dok/Badan Komunikasi Pemerintah RI)
Dengan tata ruang yang lebih terbuka dan fungsional, gerbong hijau ini menjadi simbol hadirnya layanan transportasi publik yang ramah buruh, efisien, dan berpihak pada ekonomi rakyat kecil.
Kereta khusus petani dan pedagang ini menjadi langkah nyata negara dalam menghadirkan moda angkutan yang terjangkau, ramah buruh, dan mendukung sektor pangan rakyat. Nantinya kereta akan melayani lintasan menuju daerah-daerah seperti Rangkasbitung, Serang, dan Merak yang merupakan salah satu jalur utama penghubung antara pusat pertanian dan kawasan perdagangan.

Presiden secara khusus meresmikan wajah baru Stasiun Tanah Abang, 4 Oktober 2025. (Tim Media Presiden)
Presiden RI Prabowo Subianto pada Selasa (4/10/2025) meninjau kereta khusus petani dan pedagang, rangkaian berwarna hijau yang baru beroperasi dan didesain untuk mendukung distribusi hasil pertanian serta barang dagangan rakyat.
“Saya cek, mereka hanya bayar untuk dirinya, barang dagangannya tidak perlu bayar. Kursinya menyamping,” ujar Presiden Prabowo dikutip dari setkab.go.id.
Kebijakan ini disertai subsidi ongkos hingga 60 persen dari pemerintah. Skema tersebut memastikan biaya transportasi tetap terjangkau bagi pelaku usaha kecil di sektor pangan dan perdagangan tradisional.
“Ongkos disubsidi pemerintah 60 persen. Kalau untuk petani dan pedagang, tetap disubsidi 60 persen, barangnya tidak bayar,” tegas Presiden Prabowo.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyebut telah menyiapkan delapan unit kereta khusus petani dan pedagang yang mulai beroperasi di rute Merak–Rangkasbitung, dengan 14 perjalanan per hari. Jadwal operasionalnya disesuaikan dengan ritme aktivitas petani dan pedagang, dari pagi hingga sore. Rute ini akan diperluas hingga Tanah Abang setelah tahap awal berjalan optimal.
Kereta berkapasitas 73 tempat duduk ini dirancang dalam kelas ekonomi (K3) dengan tata kursi sejajar di sisi kiri dan kanan, memberi ruang lega di tengah untuk meletakkan hasil panen atau barang dagangan. Pintu gerbong dibuat lebih lebar agar barang dapat keluar-masuk dengan mudah.
Dalam peninjauan di Stasiun Manggarai dan Tanah Abang, Presiden Prabowo juga berbincang dengan penumpang dan memperhatikan kebersihan serta kenyamanan fasilitas. Pengalaman langsung itu menjadi simbol bahwa pembangunan transportasi tidak berhenti pada beton dan rel, tetapi menembus hingga ke jantung ekonomi rakyat kecil.
Bagi para petani dan pedagang di Banten, seperti dari Serang, Lebak, dan Pandeglang, layanan ini menjadi angin segar. Mereka kini dapat membawa hasil panen atau dagangan ke pasar dengan biaya lebih murah, waktu lebih cepat, dan tenaga lebih ringan.
Selain efisiensi biaya, layanan ini juga membantu memperlancar arus barang dari daerah ke pasar-pasar perkotaan. Petani dan pedagang di wilayah Banten seperti Serang, Lebak, dan Pandeglang kini memiliki akses transportasi yang lebih cepat dan aman untuk menjajakan hasil bumi mereka ke sentra perdagangan seperti Tanah Abang.
Dalam jangka panjang, integrasi layanan transportasi publik dengan aktivitas ekonomi rakyat ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi daerah dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Upaya ini menegaskan komitmen pemerintah bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga menghadirkan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat kecil.
Optimisme tumbuh bahwa kereta hijau ini bukan sekadar moda transportasi—melainkan jembatan rezeki rakyat kecil menuju kesejahteraan yang lebih layak.
Leave a Reply