Masih ada sekitar seperempat anak usia dini di Indonesia yang belum terjangkau layanan PAUD bermutu, sehingga belum memperoleh kesempatan belajar yang setara sejak awal kehidupannya.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi pendidikan prasekolah sebagai bagian dari agenda besar pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah persaingan global dan transformasi ekonomi yang cepat, kesiapan generasi muda Indonesia harus dibangun sejak masa keemasan (golden age), ketika perkembangan otak, karakter, dan kemampuan belajar bertumbuh paling pesat.
Untuk itu, negara menegaskan kembali komitmennya melalui penyelenggaraan Puncak Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional Tahun 2025 oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pada 12–14 November 2025 di Jakarta.
Mengusung tema “Setahun Awal, Bekal Sepanjang Hayat”, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat pelaksanaan Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah yang menjadi salah satu program prioritas dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Dalam laporannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa PAUD adalah tahapan paling krusial bagi pembentukan kualitas manusia Indonesia. Ia menekankan bahwa investasi pada pendidikan usia dini akan menentukan kemampuan anak menghadapi masa depannya.
“Pendidikan anak usia dini adalah tahapan yang sangat menentukan masa depan bangsa. Anak-anak yang mendapat kesempatan belajar di PAUD memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, nilai akademik yang lebih baik, dan kesiapan yang lebih matang untuk menjadi anak Indonesia yang hebat,” ujar Menteri Mu’ti, Rabu (13/11).
Penguatan layanan PAUD juga tidak lepas dari peran keluarga. Menteri menegaskan pentingnya Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu bangun pagi, berdoa/beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat, sebuah kebiasaan dasar yang membentuk disiplin dan karakter anak sejak usia dini.
Komitmen negara makin diperkuat lewat kebijakan anggaran. Dalam Rancangan APBN 2026, pemerintah mengalokasikan Rp357,8 triliun untuk sektor pendidikan, termasuk Rp5,1 triliun untuk Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD. Alokasi ini dipadukan dengan pelatihan, pendampingan, dan pemberian insentif bagi pendidik di daerah, khususnya wilayah 3T, agar kualitas pembelajaran dapat merata secara nasional.
Sebanyak 42 Bunda PAUD dari seluruh Indonesia menerima penghargaan dalam kegiatan ini, mulai dari kategori provinsi dan kabupaten/kota berprestasi hingga Bunda PAUD inovatif dari desa dan kecamatan. Inovasi daerah juga menjadi bukti nyata bahwa penguatan PAUD tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat. Kabupaten Tanah Tidung menghadirkan program Kuliah Gratis untuk Guru PAUD, Gerakan Minum Susu (Germisu), hingga TERASKU yang menekankan kolaborasi keluarga dan sekolah. Kabupaten Sarolangun di Jambi menginisiasi GPS JEMPOL untuk mencegah putus sekolah sejak PAUD hingga pendidikan menengah.
Upaya tersebut sejalan dengan Desain Besar Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah, yang menjadi fondasi program Wajib Belajar 13 Tahun. Kebijakan ini menekankan adaptasi sesuai kondisi daerah, memperkuat sosialisasi, advokasi, pendampingan, hingga konsolidasi data. Peran Bunda PAUD di setiap tingkat pemerintahan menjadi pilar penting untuk mempercepat perluasan layanan serta memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Di tengah ambisi Indonesia Emas 2045 dan menuju negara maju berbasis keunggulan sumber daya manusia, PAUD menjadi pondasi strategis yang tidak bisa ditawar. Puncak Apresiasi Bunda PAUD Nasional 2025 mempertegas bahwa membangun bangsa dimulai dari memperkuat tahun-tahun awal kehidupan anak.
Dengan sinergi pemerintah, keluarga, masyarakat, dan kepemimpinan Bunda PAUD di seluruh Indonesia, negara berkomitmen menyiapkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.
PAUD Menentukan Keberhasilan Pembangunan SDM
PAUD adalah fondasi utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Namun hingga kini, akses dan mutu PAUD masih belum merata. Data menunjukkan bahwa sekitar seperempat anak usia dini di Indonesia belum terjangkau layanan PAUD bermutu, sehingga berpotensi memasuki jenjang sekolah dasar tanpa kesiapan belajar yang memadai. Ketmpangan ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia yang tengah mengejar visi Indonesia Emas 2045.
Agar setiap anak mendapatkan kesempatan yang setara sejak awal kehidupannya, negara perlu memperkuat intervensi pada sektor PAUD. Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa perhatian ini menjadi sangat penting:
1. PAUD Menentukan Kualitas SDM Jangka Panjang
Tahun-tahun awal kehidupan merupakan fase perkembangan otak tercepat dalam hidup manusia. Pada usia 0–6 tahun, lebih dari 80% struktur otak terbentuk, sehingga stimulasi pendidikan pada masa ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir, karakter, dan kesehatan mental anak di masa depan. Anak yang mengikuti PAUD cenderung memiliki kesiapan belajar yang lebih baik, nilai akademik lebih tinggi, serta kemampuan sosial emosional yang lebih stabil ketika memasuki pendidikan dasar.
Jika negara ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang bertumpu pada manusia unggul, maka investasi di PAUD menjadi fondasi yang tidak dapat dilewatkan.
2. Masih Ada Kesenjangan Akses yang Besar
Data terkini menunjukkan sekitar seperempat anak usia 5–6 tahun di Indonesia belum terjangkau layanan PAUD. Dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD 5–6 tahun baru sekitar 74%, artinya ada jutaan anak yang belum mendapatkan kesempatan belajar pada masa paling menentukan perkembangannya. Kesenjangan ini lebih tajam di wilayah pedesaan, daerah 3T, dan keluarga berpendapatan rendah.
Tanpa intervensi negara berupa pembiayaan, regulasi, dan standarisasi layanan, kesenjangan akses dan kualitas akan memperlebar ketimpangan sosial di masa depan, sebuah risiko besar bagi stabilitas sosial dan ekonomi Indonesia 2045.
3. PAUD Mengurangi Biaya Sosial di Masa Depan
Anak yang tidak mengikuti PAUD cenderung mengalami kesulitan membaca, berhitung, dan beradaptasi ketika masuk SD. Ini memicu tingginya angka miskonsepsi belajar, ketertinggalan akademik, serta biaya remedial pendidikan. Negara-negara maju menunjukkan bahwa setiap 1 rupiah investasi di PAUD dapat menghemat biaya sosial dan pendidikan hingga 7 kali lipat di masa depan, karena anak yang mendapatkan fondasi kuat cenderung lebih produktif, lebih sehat, dan lebih kecil kemungkinan terlibat dalam masalah sosial.
Bagi Indonesia yang sedang mengejar lompatan ekonomi menuju 2045, penguatan PAUD adalah strategi efisiensi pembangunan jangka panjang.
Leave a Reply