“Bangsa besar tidak tumbuh dari rasa takut, tetapi dari keberanian untuk bermimpi dan berbuat. Mari kobarkan semangat persatuan, gotong royong, dan tekad untuk memberi yang terbaik bagi negeri.”
Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa masa depan bangsa terletak di tangan generasi muda. Dalam pesannya, Presiden menegaskan bahwa kekuatan dan masa depan Indonesia terletak di tangan para pemuda yang jujur, berani, dan setia kepada bangsa. Itulah kekuatan agar Indonesia menjadi bangsa yang maju, kuat, dan tak terkalahkan.
“Selama masih ada anak muda Indonesia yang jujur, yang berani, dan setia kepada bangsa dan rakyatnya, Indonesia tidak akan pernah bisa dikalahkan.”
Presiden Prabowo juga menyerukan kepada generasi muda untuk meneladani semangat persatuan dan perjuangan para pendahulu bangsa dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025.
Semangat itu kini menemukan bentuk barunya di era digital atau era tanpa batas (borderless). Pendidikan, ilmu pengetahuan, dan peluang usaha terbuka luas. Generasi muda Indonesia tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan gawai dan koneksi internet, mereka bisa belajar dari universitas dunia, membangun jejaring global, hingga menciptakan solusi digital bagi masalah lokal.
Jika generasi 1928 mempersatukan bangsa lewat ikrar, maka generasi 2025 bisa memperkuat Indonesia lewat karakter. Namun apa makna dan relevansi dari tiga sikap yang disebut Presiden Prabowo saat momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025?
1. Jujur: Integritas di Era Informasi
Di tengah derasnya arus informasi, kejujuran menjadi kekuatan utama.
Bagi anak muda, jujur bukan sekadar berkata benar, tetapi juga berani menjaga integritas di dunia digital. Sikap ini bisa diwujudkan dengan tidak menyebar hoaks, tidak menjiplak karya orang lain, dan tidak menghalalkan segala cara demi popularitas.
Kejujuran juga penting dalam membangun kepercayaan publik, terutama bagi generasi yang terjun di bidang kreatif, bisnis digital, dan akademik. Di era di mana reputasi bisa hancur hanya karena satu klik, kejujuran adalah modal sosial yang tak ternilai.
2. Berani: Daya Tahan dan Inovasi
Berani bukan hanya tentang maju di medan laga seperti generasi 1928. Berani hari ini adalah sikap mengambil risiko untuk berinovasi dan memperjuangkan ide baru yang otentik.
Pemuda masa kini ditantang untuk keluar dari zona nyaman. Harus berani memulai usaha, berani bersuara atas ketidakadilan, berani gagal lalu mencoba lagi. Dalam konteks global, keberanian ini berarti punya daya saing: menciptakan teknologi lokal, menantang stigma, dan mengubah peluang kecil menjadi gerakan besar.
3. Setia kepada Bangsa: Loyalitas di Dunia Tanpa Batas
Era digital membuat dunia seakan tanpa batas, tetapi kesetiaan kepada bangsa berarti tidak kehilangan akar.
Anak muda bisa bekerja di luar negeri, belajar di kampus global, atau berjejaring lintas dunia, namun tetap membawa nama Indonesia dengan bangga. Misalnya melalui diplomasi-diplomasi menyenangkan dengan karya, kuliner, budaya, dan kecakapan intelektualnya.
Kesetiaan ini juga berarti mau bergotong royong membangun negeri, dari desa hingga kota, dari dunia nyata hingga ruang digital.
Presiden Prabowo menutup pesannya dengan ajakan penuh semangat bagi generasi muda Indonesia agar berani bermimpi besar dan tidak takut gagal. Ia menegaskan bahwa bangsa yang kuat lahir dari pemuda yang berani, mencintai tanah air, dan rela berkorban demi rakyatnya.
Leave a Reply