Cuan dari Komedi Sehari-hari

Tangkapan layar Instagram dari dua kreator komedi Indonesia, Agung Karmalogy (kiri) dan Musdalifah Basri (kanan).

Tak hanya terbatas di atas panggung, komedi kini merambah dunia digital. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memungkinkan para komika untuk menjangkau audiens yang lebih luas, bahkan internasional. Dengan kemampuan untuk viral dalam hitungan detik, para komika modern mampu menjadikan humor sebagai bisnis yang menguntungkan.

Banyak dari mereka yang tidak hanya mengandalkan pertunjukan langsung, tetapi juga memperluas peluang melalui konten digital, endorsement, hingga stand-up comedy podcast. Sumber pendapatan ini tentu memperlihatkan bahwa komedi kini dapat menjadi industri yang layak diperhitungkan, dengan potensi keuntungan yang jauh lebih besar dari sekadar ketawa.

Bagi anak muda dan netizen Indonesia, nama Agung Karmalogy hampir pasti muncul di lini masa. Komedi absurdnya dengan penampilan nyentriknya yang menyerupai sosok tertentu atau video viral tertentu, membuatnya jadi salah satu kreator komedi yang laris.

Agung kerap meniru (cosplay) konten-konten viral. Misalnya ia dan tim meniru konten sekelompok emak-emak desa yang bergaya dengan jilbab warna-warninya. Agung betul-betul hanya meniru penampilan, gerakan tubuh, hingga kostumnya. Namun, konten itu dibanjiri lebih dari 150.000 suka.

Musdalifah Basri, kreator komedi perempuan asal Indonesia, dikenal lewat kemampuannya menirukan berbagai tokoh dengan karakter yang kuat. Mulai dari anak sekolah, ibu-ibu rumpi, hingga figur-figur yang lekat dengan keseharian masyarakat.

Materi yang ia angkat pun dekat dengan realitas sekitar, seperti potret kenakalan remaja tempo dulu yang ia bandingkan dengan perilaku remaja masa kini. Melalui komedinya, Musdalifah justru menyampaikan kritik halus tentang mentalitas remaja saat ini yang bahkan berani melawan guru ketika ditegur.

Menurut penelusuran di laman Indonesia Creators Economy (ICE), tarif Agung Karmalogy saat ini mulai dari Rp6 juta. Ini menjadi salahs atu bukti bahwa humor bukan hanya membuat orang tertawa, tetapi juga dapat menjadi komoditas ekonomis.

Fenomena seperti Agung adalah cermin dari perubahan besar. Komedi bukan lagi sekadar hiburan spontan, melainkan industri kreatif yang serius terus bertumbuh. Menariknya, banyak di antara geliat itu bergerak sejalan dengan dorongan dan regulasi positif dari pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Republik Indonesia, pada Selasa, 30 September 2025, kembali menyoroti potensi sektor hiburan, khususnya seni komedi, sebagai sumber ekonomi yang bisa berkembang pesat.

Budaya Humor

Kementerian Ekraf melalui laman resminya mengisahkan perjalanan komedi Nusantara. Sejak zaman dulu, Indonesia sudah mengenal seni pertunjukan komedi. Salah satu yang paling terkenal adalah Ludruk Bandhan, yang menggabungkan komedi dengan musik tradisional.

Kemudian, di era 1920-an muncul Lenong Betawi yang memperkenalkan komedi dengan nuansa kehidupan masyarakat Betawi. Di tahun 60-an hingga 90-an, kelompok seperti Srimulat dan Warkop DKI menjadi fenomena, dengan lawakan cerdas yang sering mengkritik keadaan sosial dan politik. Mereka menyampaikan kritik melalui kelakar yang segar dan penuh kecerdasan.

Namun, revolusi komedi yang sesungguhnya terjadi di era 2000-an dengan munculnya stand-up comedy. Komedi ini tidak hanya sekadar hiburan ringan, tetapi juga mengandung pesan sosial, bahkan kritik politik. Perubahan ini membuka peluang bagi para komika (komedian) untuk tampil dengan gaya yang lebih cerdas dan berani. Tidak jarang, para komika tampil di panggung dengan monolog panjang yang mengangkat isu-isu penting, mulai dari kesenjangan sosial hingga politik dalam negeri.

Kementerian Ekraf juga menyadari bahwa humor bukan hanya bagian dari hiburan semata, tetapi juga dapat menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang mendalam tentang masyarakat, politik, dan budaya. Dengan demikian, komedi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat sambil memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Beberapa bulan lalu, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya begitu mengapresiasi film Cocote Tonggo yang mengangkat cerita lokal dengan kekuatan kreatif yang apik. Film itu disebutnya menjadi contoh film nasional yang membawa tren hyperlocal dalam narasi dan komedi yang mudah diterima siapa saja.

“Film Cocote Tonggo menjadi refleksi dari realitas sosial yang jarang diangkat ke layar lebar. Ini membuktikan bahwa cerita lokal jadi bisa punya daya tarik universal. Kami menyambut tren hyperlocal untuk memperkuat ekosistem kreatif yang dimulai dari daerah, baik dari sisi akses, penguatan kapasitas kelembagaan, dan peluang yang setara untuk bertumbuh,” kata Menteri Ekraf Teuku Riefky, Jumat (9/5/2025) dikutip dari laman ekraf.go.id.

Belajar dari Tren Hyperlocal yang Diapresiasi Menteri Ekraf

Transformasi komedi sebagai medium kritik sosial-politik dan identitas kreatif membuat semakin banyak anak muda ingin terjun ke dunia ini. Dan pemerintah, lewat berbagai program pengembangan talenta kreatif, membuka ruang yang lebih luas untuk para kreator baru.

Di sinilah insight dari Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menjadi sangat relevan. Ia mengapresiasi film Cocote Tonggo karena berhasil mengangkat cerita lokal dengan kekuatan kreatif yang sederhana namun memikat. Film itu disebutnya sebagai contoh nyata bagaimana narasi hyperlocal atau cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat bisa menghasilkan komedi yang natural, hangat, dan mudah diterima siapa saja.

Pendekatan hyperlocal inilah yang bisa menjadi kunci awal bagi siapa pun yang ingin mulai ngonten humor. Tidak perlu langsung meraih isu besar atau teknik produksi rumit. Justru, humor paling kuat sering lahir dari hal-hal yang paling dekat.

1. Jadikan Kehidupan Sehari-hari sebagai Panggung Komedi

Cocote Tonggo sukses karena terasa familiar. Hal sederhana seperti percakapan tetangga, dinamika RT, polah keluarga, sampai momen absurd di warung kopi bisa menjadi bahan komedi yang kuat. Semakin dekat konteksnya, semakin mudah penonton merasa “itu gue banget.”

2. Manfaatkan Keunikan Daerah dan Budaya Setempat

Bahasa daerah, logat, kebiasaan lokal, atau tradisi kecil yang hanya diketahui masyarakat sekitar sering kali punya nilai komedik tinggi. Konten humor seperti ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya sejalan dengan dorongan pemerintah terhadap karya kreatif bernilai budaya.

3. Bangun Karakter yang Relatable

Setiap lingkungan punya tokoh khas: tetangga julid, bapak-bapak komentator, atau teman yang sok tahu. Membuat karakter berdasarkan figur-figur ini akan memberi konten warna yang autentik dan mudah disukai.

4. Ceritakan dari Perspektifmu Sendiri

Pendekatan hyperlocal bekerja karena ia jujur. Penonton merasakan keaslian cerita. Tidak perlu dibuat-buat—justru hal yang jamak, lugu, atau tidak sempurna sering menjadi sumber tawa terbesar.

5. Mulai dengan Alat Sederhana

Pemerintah telah membuka banyak ruang bagi kreator baru, sehingga tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Banyak kreator humor besar memulai dengan kamera ponsel dan ide yang dekat dengan diri mereka. Yang paling penting adalah konsistensi dan keberanian bercerita.

Menarik untuk dibaca

Bagaimana Teknologi Mengubah Pasar Tenaga Kerja Asia Timur-Pasifik?

Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Robot dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah wajah pasar tenaga kerja. Ia telah…

Kala Lensa Kamera Menangkap Isu Kesehatan Mental

Di tengah perbincangan isu kesehatan mental oleh remaja dan meningkatnya kasus perundungan, sekelompok fotografer muda di Kota Surakarta memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka mengambil…

Cuan dari Komedi Sehari-hari

Tak hanya terbatas di atas panggung, komedi kini merambah dunia digital. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memungkinkan para komika untuk menjangkau audiens yang lebih…

Teknologi Pendidikan hingga Daerah Terpencil

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam kebangkitan suatu bangsa. Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan hal ini dalam berbagai kesempatan, menyampaikan bahwa pendidikan adalah kunci…

Mengenal Micro Creative Business, Peluang Anak Muda di Lautan Kreativitas

Micro creative business mengacu pada usaha skala kecil yang mengandalkan unsur kreativitas, ide orisinal, dan keunikan sebagai inti produk atau jasa. Daripada sekadar memproduksi barang…

Sejauh Mana Negara Bangun Pasar dan Ruang Kerja Insklusif?

Masih segar dalam ingatan, video viral Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mewawancarai pemuda penyandang disabilitas fisik berupa dwarfisme (tubuh sangat pendek) bernama Zidan. Pria 20…

Ekonomi Gig Naik Daun

Rp5,1 Triliun Bekal Anak Indonesia Sepanjang Hayat

Masih ada sekitar seperempat anak usia dini di Indonesia yang belum terjangkau layanan PAUD bermutu, sehingga belum memperoleh kesempatan belajar yang setara sejak awal kehidupannya….

Optimisme Pertanian Indonesia Hadapi Perubahan Iklim

Indonesia menunjukkan langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui kolaborasi lintas lembaga yang memperkuat sektor pertanian nasional. Salah satu bentuk sinergi tersebut tampak dalam…

Waspada Deepfake: Ancaman Privasi Hingga Propaganda 

Teknologi deepfake semakin menjadi sorotan karena kemampuannya menghasilkan video atau audio yang sangat realistis, namun sebenarnya rekayasa atau palsu. Pemanfaatan teknologi deepfake pun kini marak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *