Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menegaskan sebanyak 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih akan beroperasi penuh pada Maret 2026. Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan 80.000 Kopdes/Kel Merah Putih berupaya mewujudkan target tersebut. Program ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menegakkan kembali ekonomi gotong royong dan memperkuat kedaulatan pangan nasional.
“Maret 2026 kita harapkan seluruh gerai dan gudang selesai dibangun. Insya Allah target operasi Kopdes/Kel Merah Putih bisa berjalan dengan baik,” ujarnya dalam acara Town Hall Meeting Satu Tahun Kemenko Pangan di Jakarta, Selasa (21/10/2025) dikutip dari kop.go.id.
Program Kopdes/Kel Merah Putih terus menunjukkan progres signifikan. Dari total 83.762 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia, hampir seluruhnya sudah tersosialisasi program ini, yakni sebanyak 83.750 wilayah.
Lebih dari itu, 82.231 desa dan kelurahan kini telah memiliki badan hukum koperasi, menandakan kesiapan mereka untuk beroperasi penuh sebagai bagian dari gerakan ekonomi rakyat berbasis desa. Data ini menggambarkan komitmen kuat pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi lokal dan membuka ruang partisipasi masyarakat, terutama generasi muda desa, dalam membangun kemandirian ekonomi daerahnya.
Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika banyak desa menghadapi stagnasi ekonomi, urbanisasi tenaga muda, dan ketimpangan akses pasar, maka kehadiran Kopdes Merah Putih seakan menjadi angin baru bagi perekonomian akar rumput.
Tak hanya membangun gudang dan gerai di ribuan titik, program ini sedang membangun harapan agar desa kembali menjadi pusat produktivitas dan solidaritas ekonomi. Dan di titik inilah, anak muda desa punya peluang besar untuk menjadi motor perubahan. Mereka bisa menjadi penggerak kebangkitan ekonomi yang dimulai dari “rumah” sendiri.
1. Menggerakkan Ekonomi Riil Desa
Kehadiran gerai dan gudang Kopdes Merah Putih akan melahirkan pusat ekonomi baru di tiap wilayah. Di sanalah kebutuhan manajemen stok, logistik, pemasaran, dan operasional akan tumbuh.
Anak muda desa bisa mengambil peran sebagai pengelola koperasi modern, pelaku usaha lokal, hingga penyedia produk yang dijual di gerai Kopdes mulai dari bibit tanaman, hasil kebun, makanan olahan, hingga produk kreatif.
Inilah saat yang tepat untuk memetakan potensi unggulan desa, membangun jejaring produsen lokal, dan mempelajari dasar manajemen usaha serta pemasaran digital agar siap ketika koperasi mulai beroperasi.
2. Motor Digitalisasi dan Branding Produk Desa
Kopdes tidak akan hanya bergerak secara fisik, tetapi juga perlu hadir di ruang digital. Setiap koperasi membutuhkan sistem informasi, promosi, dan transparansi transaksi agar dipercaya publik.
Di sinilah peran anak muda sebagai digital marketer desa menjadi krusial. Keterampilan dan kedekatan anak muda dengan tools digital memungkinkan mereka mengelola media sosial, membuat konten, atau membangun katalog produk daring.
Keahlian sederhana seperti desain konten di Canva, pengelolaan WhatsApp Business, atau storytelling di TikTok dan Instagram bisa menjadi jalan masuk menuju ekonomi kreatif desa.
3. Terlibat dalam Pembangunan dan Tata Ruang Desa
Tahapan percepatan pembangunan gudang dan gerai Kopdes membuka lapangan kerja baru di bidang konstruksi dan manajemen proyek desa.
Anak muda yang memiliki kemampuan teknis, organisasi, atau dokumentasi dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan, mulai dari pemetaan lahan idle hingga pengawasan proyek.
Dengan membentuk kelompok kerja pemuda atau tim konstruksi kecil, mereka bisa menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur desa yang membawa dampak jangka panjang.
4. Membangun Unit Usaha Pemuda
Seperti yang diketahui, pemerintah menyiapkan plafon pinjaman hingga Rp3 miliar untuk setiap Kopdes. Pinjaman itulah yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja dan mengembangkan unit usaha di bawah koperasi.
Momentum ini peluang emas bagi kelompok pemuda desa untuk mengajukan kerja sama atau membangun unit usaha mandiri sebagai pemasok, penyedia layanan logistik, hingga pengelola kemasan produk lokal.
Kuncinya ada pada kesiapan membentuk kelompok usaha, menyiapkan proposal sederhana, dan memahami mekanisme koperasi.
Di balik program besar ini, sejatinya sedang tumbuh panggilan bagi generasi muda desa. Kopdes Merah Putih bukan sekadar proyek ekonomi pemerintah, melainkan wadah untuk membangun kemandirian dan citra diri desa.
Jika anak muda berani mengambil peran sejak sekarang, maka kebangkitan ekonomi gotong royong nan kreatif yang diimpikan bangsa bisa berawal dari tangan-tangan generasi muda sendiri.
Leave a Reply