Di tengah tekanan biaya hidup dan sulitnya mencari pekerjaan formal tetap, banyak anak muda Indonesia kini mencari cara baru untuk tetap produktif di kampung halamannya. Sebagian mencoba berjualan online, sebagian lain membuka usaha kecil di depan rumah.
Namun di banyak desa, masih ada satu peluang yang sering terlewat: menjadi agen laku pandai, atau perpanjangan tangan bank di pelosok.
Di era digital seperti sekarang, pekerjaan ini mungkin terdengar jadul. Padahal, justru di tengah derasnya arus digitalisasi dan rendahnya literasi keuangan masyarakat, agen bank menjadi jembatan nyata antara dunia finansial modern dan kehidupan desa.
Mengapa demikian?
Pada 2024, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 2025 terdapat 1,36 juta agen laku pandai yang berasal dari 34 bank dan tersebar di 512 dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia. Angka ini menunjukkan bagaimana jaringan keuangan tanpa kantor cabang (branchless banking) telah menjangkau hampir seluruh wilayah Nusantara.
“Desa di Indonesia ada sekitar 80 ribu lebih. Artinya, secara rata-rata di setiap desa itu sudah ada sekitar 15–16 agen laku pandai. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, Aman Santosa pada Kamis (2/5/2024), dikutip dari Antara.
Menjembatani Literasi dan Inklusi Keuangan
Menurut riset OJK, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 65 persen, sementara inklusi keuangan yakni tingkat keterjangkauan masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan sudah berada di angka 88 persen.
Misalnya, di suatu desa banyak penerima bantuan sosial (bansos) atau gaji lewat rekening bank yang hanya mengambil uang tunai di agen BRILink tanpa tahu fungsi lain dari rekeningnya seperti menabung, transfer, atau pembayaran digital. Mereka sudah disebut inklusif secara akses, namun belum literat secara fungsi.
Perbedaan 23 poin antara literasi dan inklusi menunjukkan masih adanya celah pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam menggunakan produk keuangan secara bijak dan aman. Di sinilah peran agen laku pandai menjadi krusial.
Dengan kehadiran di hampir setiap desa, agen-agen ini berperan sebagai “ujung tombak” inklusi keuangan. Mereka tidak hanya melayani transaksi perbankan dasar seperti setoran, penarikan, atau pembayaran tagihan, tetapi juga menjadi titik edukasi bagi masyarakat agar lebih melek keuangan.
“Agen laku pandai adalah aktor penting yang sudah lama hadir di tengah masyarakat dan diharapkan mampu mempercepat gerakan mencerdaskan masyarakat dalam menggunakan produk-produk jasa keuangan,” lanjut Aman Santosa.
Potensi Bisnis yang Masih Terbuka
Secara bisnis, jejaring agen laku pandai juga memiliki potensi ekonomi yang besar.
Program ini memungkinkan individu, pelaku UMKM, atau warung di desa menjadi perpanjangan tangan bank, dengan biaya operasional rendah dan potensi pendapatan dari komisi transaksi.
Selain itu, dalam konteks digitalisasi, keberadaan agen fisik tetap relevan sebab masih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan keuangan tatap muka karena keterbatasan literasi digital, sinyal internet, atau kepercayaan terhadap sistem daring.
Model bisnis agen laku pandai pun kini berkembang menjadi hibrida, menggabungkan layanan fisik dengan sistem digital. Agen-agen seperti BRILink, Mandiri Agen, dan Laku Pandai dari berbagai bank lain memanfaatkan aplikasi, QRIS, serta fitur top-up e-wallet untuk memperluas jenis layanan.
Peluang Nyata Pemuda Desa
Pemuda bisa membuka layanan keuangan mikro di rumah, toko, atau bahkan warung kopi. Setiap transaksi dari setor tunai hingga top-up e-wallet akan menghasilkan pundi-pundi komisi. Penghasilan memang kecil per transaksi, tapi stabil dan berulang.
Di banyak desa, agen BRILink bahkan sudah jadi pusat aktivitas warga tempat bayar tagihan, ambil uang, atau sekadar bertanya soal aplikasi mobile banking.
Selain itu, banyak warga desa masih canggung atau takut salah saat bertransaksi online. Pemuda dengan kecakapan digital bisa hadir sebagai “pemandu digital”. Pemuda bisa mengajari cara transfer aman, cek saldo via aplikasi, atau mengenali modus penipuan online.
Pada aksi ini, pemuda bukan hanya membantu warga, tapi juga membangun kepercayaan komunitas terhadap layanan keuangan modern.
Agen BRILink tidak harus berdiri sendiri. Banyak yang memadukannya dengan usaha pulsa, fotokopi, toko kelontong, atau warung kopi. Pendekatan “one stop service” seperti ini membuat usaha lebih ramai, dan transaksi keuangan bisa jadi magnet untuk pembeli baru.
Jika usaha sudah berjalan, pemuda dengan kemampuan digital bisa mengelola data sederhana dari transaksi keuangan masyarakat. Misalnya pola pengiriman uang, musim belanja, atau pengeluaran rumah tangga.
Data ini berguna untuk membaca potensi ekonomi desa dan membuka peluang kerja sama dengan lembaga keuangan formal atau program pemerintah.
Dengan potensi jaringan keuangan mikro yang sudah menjangkau hampir setiap desa, serta kemampuan digital yang dimiliki generasi muda, peluang membangun bisnis jejaring bank terbuka lebar.
Pertanyaannya, dengan skill dan koneksi yang kamu miliki hari ini, tertarikkah kamu menjadi bagian dari gerakan ekonomi desa melalui bisnis agen keuangan digital?
Leave a Reply