- 1. Profesi Baru Bidang Pengembangan dan Pelatihan AI
- 2. Spesialis Integrasi AI Lintas Sektor
- 3. Maintenance dan Supervising AI Systems
- 1. Mulai dengan Literasi Dasar dan Tool AI
- 2. Fokus pada Skill yang Sulit Digantikan (Human-Centric Skills)
- 3. Manfaatkan Platform Pembelajaran Digital
- Seberapa Besar Potensi Pemuda Indonesia di Ranah AI?
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid menegaskan Kecerdasan Artifisial (AI) berpotensi menciptakan 90 juta lapangan kerja baru. Pernyataan ini disampaikan pada acara “AI for Indonesia” yang digelar di The Ballroom Djakarta Theater pada Kamis (23/10/2025) lalu.
Pernyataan Menteri Meutya tersebut telah memantik semangat baru bagi generasi muda. Meskipun AI diprediksi akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan pada tahun 2025, angka tersebut justru dikalahkan oleh peluang penciptaan lapangan kerja baru yang jauh lebih besar. AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan mesin pencipta peluang hari ini.
Bagi pemuda Indonesia, ini adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan gelombang transformasi digital ini.
“Memang benar, AI diperkirakan akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan pada tahun 2025. Namun, pada saat yang sama, teknologi ini juga berpotensi menciptakan 90 juta pekerjaan baru di bidang yang sebelumnya tidak ada. Jadi, AI perlu diwaspadai, tapi tidak perlu ditakuti,” ujar Menteri Meutya dikutip dari indonesia.go.id.
Apa yang disampaikan Menteri Meutya mengindikasikan bahwa peluangnya lebih luas. Artinya, tidak seluruhnya harus menjadi seorang data scientist atau engineer AI. Peluang justru terbuka lebar di berbagai bidang yang memerlukan keahlian kolaborasi antara manusia dan mesin.
Beberapa peluang utamanya meliputi:
1. Profesi Baru Bidang Pengembangan dan Pelatihan AI
Posisi ini adalah inti dari ekosistem AI. Pekerjaan yang muncul bisa meliputi prompt engineer atau profesional yang memiliki keahlian khusus dalam merancang perintah (prompts) yang efektif untuk menghasilkan output yang akurat dan relevan dari model AI generatif seperti ChatGPT, DALL-E, atau Gemini).
Kedua, posisi AI Ethicist & Governance Specialist. Pekerjaan ini bertugas memastikan pengembangan dan penggunaan AI dilakukan secara etis, adil, dan sesuai regulasi.
Ketiga, AI Trainer/Annotator. Orang yang bertugas melatih model AI dengan menandai, mengklasifikasi, dan memvalidasi data.
2. Spesialis Integrasi AI Lintas Sektor
Pekerjaan ini menggabungkan keahlian domain tradisional dengan teknologi AI. Misalnya digital marketing analyst (with AI Tools). Pekerjaan ini bekerja menganalisis perilaku konsumen dan mengoptimalkan kampanye pemasaran secara real-time menggunakan insight dari AI.
Sektor lain yang menarik adalah integrasi AI dengan dunia industri keuangan. Posisi yang memjanjikan seperti Fintech Specialist. Mereka bertugas mengembangkan layanan keuangan atau kesehatan yang dipersonalisasi menggunakan prediksi risiko dan analisis data dari AI.
3. Maintenance dan Supervising AI Systems
Seiring AI mengambil alih pekerjaan rutin atau repetitif, manusia tetap dibutuhkan untuk mengawasi dan memelihara sistem tersebut. Misalnya mengawasi jalannya robot atau sistem otomatisasi di pabrik dan gudang atau cybersecurity analyst yang bertugas melindungi sistem AI dan data dari ancaman siber.
Yang menarik dari peluang karier di bidang AI adalah tidak selalu memerlukan latar belakang ilmu komputer formal. Talenta-talenta digital di bidang AI hanya butuh literasi digital dan kemauan belajar cepat (reskilling/upskilling). Tentu, generasi muda dengan kemampuan adaptasi teknologi yang cepat akan lebih mudah menjadi seorang ahli di bidang AI.
Dengan contoh potensi yang beragam di atas, lantas bagaimana cara seorang pemuda mulai memasuki ranah AI?
1. Mulai dengan Literasi Dasar dan Tool AI
Jangan hanya menjadi pengguna, tetapi pelajari cara kerja dan maksimalkan alat-alat AI populer (seperti Google Gemini, Microsoft Copilot, dsb.) untuk pekerjaan harian.
Setelah akrab dengan penggunaan AI populer, lanjutkan dengan belajar prompt engineering dasar. Mulai dengan mempraktikkan cara memberikan instruksi yang jelas, spesifik, dan kontekstual kepada AI. Ini adalah keahlian baru yang sangat berharga di berbagai profesi.
2. Fokus pada Skill yang Sulit Digantikan (Human-Centric Skills)
Seperti yang dikatakan Menteri Meutya, AI bukanlah ancaman. Maka ceruk peluang yang juga terbuka lebar adalah bidang-bidang kerja yang masih dan terus akan membutuhkan sentuhan keterampilan manusia.
AI sangat baik dalam tugas kognitif berulang, tetapi lemah dalam hal yang bersifat unik manusia. Sebab kreativitas dan inovasi, kecerdasan emosional, kemampuan negosiasi, berpikir kritis serta pemecahan masalah yang kompleks menjadi keterampilan organik manusia.
3. Manfaatkan Platform Pembelajaran Digital
Setelah mantap dengan pilihan, lanjutkan dengan mengikuti kursus daring (online course) bersertifikat yang berfokus pada data science, machine learning, atau aplikasi AI di sektor spesifik yang diminati. Misalnya, AI untuk marketing, finance, atau kreator konten.
Seberapa Besar Potensi Pemuda Indonesia di Ranah AI?
Potensi pemuda Indonesia untuk mengisi 90 juta lapangan kerja baru sangatlah besar, didukung oleh beberapa faktor kunci. Indonesia memiliki populasi pemuda yang sangat besar (Generasi Z dan Milenial) yang secara alami lahir di era digital. Mereka memiliki literasi digital yang tinggi dan adaptasi teknologi yang cepat, menjadikan mereka modal utama untuk menjadi tenaga kerja AI ready.
Dengan fondasi industri kreatif yang sudah mapan (kuliner, fashion, film, game), pemuda dapat dengan mudah mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja kreatif mereka, menciptakan produk yang lebih personal dan berskala global.
Namun, pemerintah juga harus meningkatkan konektivitas dan penetrasi internet yang masif di seluruh negeri mendukung pembelajaran daring dan pengembangan aplikasi berbasis cloud (awan).
Pemuda adalah kunci utama transformasi AI di Indonesia. Dengan sikap yang adaptif dan proaktif, mereka tidak hanya akan menjadi penonton, tetapi juga arsitek dari 90 juta pekerjaan baru tersebut.
AI bukanlah ancaman pemutusan hubungan kerja, melainkan alat peningkat produktivitas yang menuntut pemuda untuk meningkatkan keahlian mereka.
Leave a Reply