AI Senjata Baru Indonesia Menuju Swasembada Pangan

Ilustrasi smart farming (Freepik)

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi tinggi menjadi kunci percepatan pengentasan kemiskinan serta penguatan ketahanan pangan nasional.

Dalam forum APEC Economic Leaders’ Meeting (AELM) di Gyeongju, Korea Selatan, Sabtu (1/11/2025), Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia telah mulai memetik hasil nyata dari penerapan AI di sektor pertanian. Teknologi modern, ujarnya, memungkinkan Indonesia mencapai swasembada beras dan jagung lebih cepat dari target semula.

“Kami kini menggunakan AI di sektor pertanian untuk mengembangkan teknik pertanian yang presisi dan modern. Hal ini telah memungkinkan kami mencapai swasembada dalam produksi beras dan jagung,” kata Presiden Prabowo dikutip dari laman setneg.go.id.

Pernyataan tersebut menandai pergeseran dari produksi massal menuju transformasi teknologi pertanian yang berkelanjutan dan presisi.

Relevansi dan Tantangan di Lapangan

Transformasi digital di sektor pangan bukanlah wacana semata. Tantangan utamanya memang besar: mulai dari kesenjangan akses teknologi hingga keterbatasan literasi digital di kalangan petani kecil. Namun, arah kebijakan pemerintah menunjukkan optimisme yang beralasan.

Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya menuju Indonesia Emas 2045 dengan visi pertanian yang berkelanjutan, modern, dan berdaya saing global.

Program seperti Low-Cost Smart Farming dan Inkubator Agribisnis menjadi contoh strategi untuk mempercepat modernisasi pertanian. Tujuannya adalah mendorong lahirnya petani milenial yang tak hanya produktif, tetapi juga adaptif terhadap teknologi.

Penerapan smart farming pun tak selalu mahal. Teknologi sederhana seperti sensor kelembapan tanah, sistem irigasi otomatis, dan pemantauan berbasis aplikasi kini mulai diterapkan di berbagai daerah.

Ini semua telah terjawab melalui beberapa poin-poin komitmen Kementerian Pertanian tentang pemanfaatan teknologi untuk ketahanan pangan. Mengutip laman bppsdmp.pertanian.go.id, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi pertanian berbasis teknologi menjadi salah satu prioritas utama dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Smart farming memungkinkan petani untuk mengelola lahan secara lebih presisi, meningkatkan hasil panen, serta mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan penerapan teknologi ini, kita bisa memastikan produksi pangan yang lebih stabil dan berdaya saing,” ujar Menteri Amran.

Kementan menilai bahwa penerapan teknologi digital dan kecerdasan buatan tak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam seperti air dan pupuk, sehingga pertanian menjadi lebih ramah lingkungan dan tangguh menghadapi perubahan iklim.

Salah satu implementasi nyata adalah Smart Greenhouse di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, hasil hibah dari Direktorat Buah dan Florikultura Kementan.

Sistem ini mengadopsi konsep low-cost smart farming dengan sensor suhu, kelembapan, dan nutrisi yang terintegrasi secara otomatis. Hasilnya, produktivitas hortikultura meningkat signifikan dengan penggunaan air dan pupuk yang lebih efisien.

Model seperti ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah, terutama untuk komoditas hortikultura bernilai tinggi seperti buah dan florikultura, yang menjadi salah satu tumpuan ekspor pertanian masa depan.

Generasi Digital Bersiap Ambil Peluang

Momentum ini menjadi peluang besar bagi generasi muda di era digital untuk masuk ke sektor yang dulu dianggap konvensional. Dunia sedang bergerak menuju pertanian berbasis data dan analitik, dan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama di kawasan.

Generasi digital dapat berperan sebagai inovator teknologi pertanian dengan menciptakan aplikasi pemantauan tanaman atau prediksi panen berbasis AI.

Kedua, peluang menjadi analis data agrikultur yang mengolah data cuaca, tanah, dan pasar untuk mendukung keputusan produksi.

Serta sosialpreneur agritech, yang membantu petani tradisional terkoneksi dengan platform digital dan pasar daring.

Di dunia yang semakin borderless, pertanian bukan lagi sekadar urusan petani dan para sarjana pertanian, tetapi bisa juga lulusan SMK, sarjana rumpun sosial humaniora. Yang terpenting adalah tertarik dan mau belajar algoritma, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Visi Presiden Prabowo menegaskan bahwa AI bukan hanya alat bantu industri besar, melainkan senjata strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan rakyat.

Dengan dukungan kebijakan Kementan serta peran generasi muda yang melek teknologi, Indonesia memiliki peluang nyata untuk menjadi kekuatan agritech baru di Asia.

Kini tantangannya bukan lagi mungkinkah, melainkan seberapa cepat bangsa ini dapat menyiapkan SDM dan infrastruktur digital untuk mendukungnya.

Menarik untuk dibaca

Bagaimana Teknologi Mengubah Pasar Tenaga Kerja Asia Timur-Pasifik?

Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Robot dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah wajah pasar tenaga kerja. Ia telah…

Kala Lensa Kamera Menangkap Isu Kesehatan Mental

Di tengah perbincangan isu kesehatan mental oleh remaja dan meningkatnya kasus perundungan, sekelompok fotografer muda di Kota Surakarta memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka mengambil…

Cuan dari Komedi Sehari-hari

Tak hanya terbatas di atas panggung, komedi kini merambah dunia digital. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memungkinkan para komika untuk menjangkau audiens yang lebih…

Teknologi Pendidikan hingga Daerah Terpencil

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam kebangkitan suatu bangsa. Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan hal ini dalam berbagai kesempatan, menyampaikan bahwa pendidikan adalah kunci…

Mengenal Micro Creative Business, Peluang Anak Muda di Lautan Kreativitas

Micro creative business mengacu pada usaha skala kecil yang mengandalkan unsur kreativitas, ide orisinal, dan keunikan sebagai inti produk atau jasa. Daripada sekadar memproduksi barang…

Sejauh Mana Negara Bangun Pasar dan Ruang Kerja Insklusif?

Masih segar dalam ingatan, video viral Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mewawancarai pemuda penyandang disabilitas fisik berupa dwarfisme (tubuh sangat pendek) bernama Zidan. Pria 20…

Ekonomi Gig Naik Daun

Rp5,1 Triliun Bekal Anak Indonesia Sepanjang Hayat

Masih ada sekitar seperempat anak usia dini di Indonesia yang belum terjangkau layanan PAUD bermutu, sehingga belum memperoleh kesempatan belajar yang setara sejak awal kehidupannya….

Optimisme Pertanian Indonesia Hadapi Perubahan Iklim

Indonesia menunjukkan langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui kolaborasi lintas lembaga yang memperkuat sektor pertanian nasional. Salah satu bentuk sinergi tersebut tampak dalam…

Waspada Deepfake: Ancaman Privasi Hingga Propaganda 

Teknologi deepfake semakin menjadi sorotan karena kemampuannya menghasilkan video atau audio yang sangat realistis, namun sebenarnya rekayasa atau palsu. Pemanfaatan teknologi deepfake pun kini marak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *