Di tengah banjir konten yang berlalu begitu cepat di layar ponsel, kita sering terjebak pada kata-kata tanpa makna. Setiap hari, ribuan video, caption, dan opini berseliweran. Namun, berapa banyak yang benar-benar membuat kita berpikir?
Lewat situasi itu, Bangsa Indonesia tengah diingatkan untuk kembali menengok salah satu kekuatan terdalamnya yakni bahasa dan sastra. Keduanya adalah pilar batin yang membangun karakter dan peradaban bangsa. Keduanya bukan sekadar warisan budaya, melainkan sumber daya batin yang menumbuhkan imajinasi, empati, dan orisinalitas berpikir. Tiga hal yang justru paling dibutuhkan di era kecerdasan buatan.
Itulah gambaran besar pesan yang mengemuka dalam kegiatan “Ruang Bahasa dan Cerita Bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah” yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Semarang, Jawa Tengah.
Dalam forum itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang kian kuat di mata dunia. Ia mengingatkan bahwa bahasa tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menyatukan bangsa dan membawa nilai-nilai kebudayaan ke panggung global.
“Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol persatuan, identitas nasional, dan kekuatan diplomasi kebudayaan Indonesia di mata dunia,” ujar Abdul Mu’ti dalam sambutannya di Semarang, Kamis (30/10/2025), dikutip dari laman resmi kemendikdasmen.go.id.
Penting bagi generasi penerus bangsa untuk menjalankan Trigatra Bangun Bahasa yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Tiga hal ini bukan hanya jargon, tetapi strategi membangun manusia Indonesia yang tangguh, berkarakter, dan siap berkiprah di dunia internasional.
Apa yang disampaikan Menteri Mu’ti seolah menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak cukup diukur lewat indikator ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga lewat kemampuan berbahasa yang mencerminkan empati, moral, dan imajinasi.
Sastra menjadi jantung dari proses itu. Di dalamnya, generasi Indonesia belajar memahami perasaan orang lain, menimbang kebenaran, serta menumbuhkan kepekaan terhadap keadilan dan kemanusiaan. Nilai-nilai seperti itu yang membentuk bangsa beradab.
Tak heran, Indonesia kini memetik hasil dari kekayaan bahasanya di kancah global. Pantun sebagai salah satu ekspresi sastra lisan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia.
Kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari makna, justru mendekatkannya. Sastra melatih kepekaan batin di tengah derasnya informasi. Ketika media sosial menuntut kecepatan dan respons instan, karya sastra mengajarkan pelan-pelan: menimbang kata, merasakan emosi, dan memahami perbedaan.
Kemampuan ini menjadi bekal penting bagi generasi digital yang sering terjebak dalam “banjir konten” tanpa makna.
Manfaat Sastra di Era Digital
Di tengah arus digital yang cepat, sastra hadir sebagai penyeimbang. Berikut beberapa sisi penting bagaimana sastra memberi manfaat nyata di dunia modern.
1. Menumbuhkan Imajinasi
Di era media sosial yang penuh komentar cepat dan perdebatan dangkal, sastra mengajarkan cara untuk membaca, merasakan, dan memahami. Melalui puisi, cerpen, atau novel, seseorang belajar mengenali perasaan manusiawi seperti sedih, marah, cinta, dan kehilangan. Inilah daya pikir yang penting di era digital. Imajinasi mampu melahirkan berbagai ide unik dan otentik. Tak hanya itu, membaca juga membentuk kecerdasan emosional dan empati, dua hal yang kini mulai langka dalam komunikasi digital.
2. Pondasi Industri Kreatif Digital
Setiap produk digital yang menarik dari konten media sosial, naskah film, hingga brand storytelling berawal dari cerita yang kuat. Sastra menanamkan kemampuan itu: membangun alur, menciptakan tokoh, memilih diksi, dan menyusun emosi. Maka tak heran, lulusan sastra kini banyak dibutuhkan di dunia periklanan, game writing, content creation, bahkan prompt engineer untuk kecerdasan buatan.
3. Diplomasi Budaya
Cerita rakyat, pantun, dan prosa Indonesia yang diangkat kembali lewat media digital bisa memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada dunia yang tanpa batas. Inilah bentuk baru diplomasi budaya yang tak perlu pidato politik, cukup lewat cerita dan karya sastra yang bisa diterima publik dan menyebarluas di ruang digital.
4. Sastra Mengajarkan Komunikasi Bermakna di Era AI
Ketika mesin kini mampu menulis teks dan menjawab pertanyaan, yang membedakan manusia adalah rasa dan makna. Sastra mengasah kemampuan itu. Orang akan belajar menulis dengan empati, memahami konteks sosial, dan menyusun pesan dengan jiwa.
Dalam ekonomi digital, ini menjadi keunggulan kompetitif yang tak tergantikan oleh algoritma. Misalnya kampanye sosial di media digital yang sukses biasanya lahir dari narasi yang menyentuh hati seperti kisah perjuangan, kesetiaan, atau solidaritas. Itu semua adalah bahasa sastra yang diterjemahkan ke dunia digital.
5. Jembatan Tradisi dan Inovasi
Anak muda kini punya peluang besar untuk menjadikan sastra sebagai gerakan kreatif lintas media. Dari adaptasi cerita rakyat ke webtoon, hingga pembacaan puisi virtual dengan teknologi AI.
Ini membuktikan bahwa sastra bukan masa lalu, melainkan energi masa depan yang bisa menjembatani nilai tradisi dengan inovasi digital.
Leave a Reply