Rabu malam, 22 Oktober 2025, suasana jamuan santap malam kenegaraan untuk Presiden Republik Afrika Selatan, Matamela Cyril Ramaphosa, menjadi hangat saat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengucapkan terima kasih khusus.
“Saya juga ingin berterima kasih karena Anda telah menghormati kami dengan mengenakan batik kami, terima kasih,” ujar Presiden Prabowo.
Ucapan yang tulus ini bukan sekadar basa-basi kenegaraan. Ini adalah sinyal tegas dari puncak kekuasaan bahwa batik adalah aset diplomasi budaya dan ekonomi terpenting bangsa. Bagi Gen Z dan pekerja kreatif, momen ini seharusnya dilihat sebagai lampu hijau untuk mengambil peran lebih dalam industri yang menyimpan potensi cuan digital tak terbatas.

Suasana hangat Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Afrika Selatan Matamela Cyril Ramaphosa, Rabu (22/10/2025)/ (BPMI Setpres)
Batik, sejak diakui UNESCO pada 2009, telah melampaui fungsinya sebagai pakaian formal. Ia adalah soft power Indonesia. Momen di Istana menunjukkan betapa tingginya apresiasi pemimpin dunia terhadap warisan ini.
Lantas, seberapa besar daya tarik batik di pasar global?
Data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah pasar terbesar produk batik Indonesia. Pada tahun 2023 saja, Indonesia mengekspor batik senilai US$85,09 juta ke AS, jumlah ini setara dengan 51,59% dari total seluruh ekspor batik Indonesia alias lebih dari setengah total ekspor batik Indonesia. Jepang (US$24,24 juta) dan Singapura (US$6,91 juta) menyusul sebagai pasar utama. Data ini mencakup ekspor batik berupa produk mulai dari kain tenun, setelan pakaian, hingga saputangan dan taplak meja.
Data tersebut membuktikan bahwa pasar global terutama di negara dengan daya beli tinggi seperti AS tidak hanya menyukai batik sebagai kain, tetapi sebagai produk lifestyle.
Besarnya ekspor ke AS adalah peluang emas yang harus digarap pekerja kreatif, terutama yang fasih digital. Ketika Presiden Prabowo memuji Ramaphosa, momentum itu harus diterjemahkan menjadi konten storytelling yang viral.
Gen Z bisa fokus pada narasi filosofi motif yang digunakan para pemimpin, mengubahnya menjadi thread Twitter, reel Instagram, atau video TikTok yang bernilai edukasi dan promosi.
Di Indonesia, terdapat berbagai program studi yang secara spesifik mempelajari Kriya, Batik, hingga Desain Mode Kriya Batik di perguruan tinggi seni seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan bahkan program khusus Teknologi Batik di Universitas Pekalongan.
Mereka adalah sumber kekuatan batik. Berkaca dari pertemuan kepala negara di atas, mereka bisa membagikan kisah di balik motif yang digunakan para pemimpin negara itu menjadi Thread, X, reel Instagram, atau video TikTok yang bernilai edukasi dan promosi.
Tak hanya itu, kolaborasi batik dan pengetahuan teknologi bukan tak mungkin melahirkan perangkat lunak desain untuk menciptakan pattern batik yang adaptif untuk e-commerce dan produk merchandise modern, memastikan desain tidak hanya indah tapi juga marketable.
Jika dilihat dari data Kemenperin di atas, ekspor mencakup selimut hingga dasi. Ini membuka peluang bagi desainer interior dan crafter untuk membawa batik ke produk-produk kriya dan dekorasi rumah yang lebih modern dan minimalis, memperluas cakupan pasar dari sekadar pakaian.
Meskipun peluang ekspor ke AS menjanjikan, tantangannya adalah mempertahankan kualitas dan orisinalitas di tengah gempuran fast fashion. Pekerja kreatif dituntut memperjuangkan keunikan lewat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan mengurus Indikasi Geografis, agar motif-motif asli terlindungi dari tiruan massal.
Kedua, memanfaatkan teknologi blockchain atau sistem digital sederhana untuk menjamin transparansi asal usul pewarna dan proses pembuatan batik, meyakinkan konsumen AS dan Jepang bahwa produk yang mereka beli adalah produk etis dan berkelanjutan. Hal ini juga menambah kekuatan ekonomi hijau Indonesia.
Momen di Istana adalah sebuah konfirmasi bahwa batik kita memiliki tempat terhormat di mata dunia. Tugas kita sekarang adalah mengubah kehormatan itu menjadi potensi ekonomi nyata yang berkelanjutan dan berbasis kreativitas.
Leave a Reply