- Potensi Kopi Indonesia
- Peluang Generasi Muda
- 1. Akses Pengetahuan dan Teknologi Kopi Kelas Dunia
- 2. Kopi Spesialti sebagai Ruang Kreatif dan Cerita Identitas
- 3. Ekosistem Kreatif Kopi
- 4. Barista dan Roaster Muda sebagai Duta Diplomasi Kopi
- 5. Kemitraan dan Inovasi Sosial di Desa Kopi
- Jangan Berhenti di Meja Kerja Sama
Presiden RI Prabowo Subianto ketemu presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva ke Indonesia, Kamis (23/10/2025). Ada beberapa poin yang memperkuat hubungan strategis kedua negara di berbagai sektor, salah satunya perdagangan dan pengembangan pertanian.
Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kedua negara memiliki potensi besar untuk saling melengkapi. Indonesia unggul dalam komoditas tropis seperti kelapa sawit, kopi, kakao dan kelapa.
“Kami kan sudah tiga kali ketemu ke Menteri Pertanian Brasil. Kami dua kali kunjungan ke Brasil. Menteri Brasil tiga kali kunjung ke Indonesia. Yang kita bahas adalah bagaimana saling menguntungkan. Yang pertama, yang surplus di Indonesia CPO. Kopi, kakao, yang kita ekspor ke sana. Ada kelapa.” kata Mentan Amran dikutip dari pertanian.go.id.
Potensi Kopi Indonesia
Berdasarkan laporan Analisis Kinerja Perdagangan Kopi Semester II 2023 yang dipublikasikan Pusdatin Kementan, pada tahun 2022, ekspor kopi Indonesia didominasi oleh enam negara tujuan utama, dengan Amerika Serikat dan Mesir sebagai pasar terbesar. Nilai ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat mencapai USD 268,92 juta atau 23,42% dari total ekspor, sementara ke Mesir sebesar USD 81,74 juta atau 7,12%.
Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor kopi, terutama dari Brasil senilai USD 30,76 juta (50,60%) dan Vietnam sebesar USD 13,39 juta (22,03%).
Secara global, Brasil dan Kolombia menjadi eksportir kopi terbesar dunia dengan kontribusi masing-masing 29,88% dan 14,88%, sementara Indonesia menempati posisi keenam dengan nilai ekspor USD 1,14 miliar.
Negara pesaing utama Indonesia di pasar kopi dunia adalah Brasil, Kolombia, dan Vietnam, dengan penetrasi kuat ke pasar Amerika Serikat, Mesir, Jerman, dan India. Indonesia unggul di pasar Mesir dengan pangsa 48,82% dan di pasar India sebesar 40,71%.
Meskipun sudah termasuk dalam 11 besar eksportir kopi dunia dengan kontribusi 2,87%, ekspor kopi Indonesia masih didominasi oleh bentuk biji mentah. Karena itu, perlu dorongan untuk meningkatkan ekspor kopi olahan agar memberikan nilai tambah lebih besar dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan kopi global.
Kerja sama ini tidak sebatas perdagangan, tapi juga pertukaran pengetahuan, inovasi, dan nilai budaya antarnegara produsen kopi di kawasan Selatan–Selatan. Lantas, peluang apa yang bisa diambil generasi muda Indonesia dari langkah pemerintah menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan dalam kemitraan strategis Indonesia–Brasil?
Peluang Generasi Muda
1. Akses Pengetahuan dan Teknologi Kopi Kelas Dunia
Anak muda Indonesia, baik petani muda maupun barista, berkesempatan memperoleh pelatihan teknis dan knowledge sharing dari Brasil. Nantinya, bukan tak mungkin pemerintah kedua negara dapat mengembangkan exchange program atau pelatihan budidaya, cupping, roasting, hingga inovasi produk turunan kopi.
Hal ini membuka jalan bagi generasi muda untuk naik kelas dari sekadar penanam atau penyaji kopi menjadi coffee entrepreneur.
2. Kopi Spesialti sebagai Ruang Kreatif dan Cerita Identitas
Indonesia punya Kopi Gayo, Toraja, Flores, dan Kintamani. Varian itu punya origin story yang kuat, karakter rasa unik, lanskap indah, dan tradisi lokal yang otentik.
Di tengah tren pertumbuhan pasar kopi spesialti Brasil, anak muda Indonesia dapat menembus ceruk pasar premium. Mereka bisa memasarkan kopi tak hanya lewat rasa, tapi juga lewat cerita asal, nilai budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
3. Ekosistem Kreatif Kopi
Melihat komitmen pemerintah mendorong hilirisasi komoditas ekspor, dan kopi termasuk prioritasnya, anak muda bisa membangun ekosistem kreatif. Mulai dari coffee shop, roastery, coffee tourism, hingga digital branding kopi lokal untuk pasar ekspor.
Misalnya membuat merek kopi lokal dengan narasi “kopi dari kaki gunung Indonesia untuk dunia Selatan.”
4. Barista dan Roaster Muda sebagai Duta Diplomasi Kopi
Pekerjaan barista kini diakui sebagai bagian dari rantai ekonomi kreatif yang mengangkat citra kopi nasional. Melalui kompetisi barista, festival kopi, atau pertukaran budaya dengan Brasil, anak muda dapat menjadi coffee ambassador yang memperkenalkan cita rasa dan etos kerja petani Indonesia di panggung internasional.
5. Kemitraan dan Inovasi Sosial di Desa Kopi
Kolaborasi Indonesia–Brasil bisa menciptakan proyek percontohan desa kopi berkelanjutan. Anak muda di daerah penghasil kopi bisa mengembangkan model cooperative farm atau social enterprise dengan pendekatan digital. Ini selaras dengan agenda pemerintah soal ekonomi hijau dan diplomasi Selatan–Selatan.
Jangan Berhenti di Meja Kerja Sama
Meski peluang itu terbuka lebar, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah penting: memastikan kerja sama kopi Indonesia–Brasil tak berhenti di level perdagangan, tetapi benar-benar memberi ruang bagi petani dan generasi muda untuk tumbuh bersama industri kopi dunia.
Pemerintah perlu memperluas kerja sama Indonesia–Brasil tidak hanya pada aspek ekspor biji kopi, tetapi juga melalui diplomasi yang melibatkan generasi muda. Program seperti people-to-people exchange, pelatihan barista, pertukaran petani muda, dan promosi coffee tourism bisa menjadi langkah konkret untuk menumbuhkan jejaring global bagi pelaku muda kopi Indonesia. Selain itu, mengingat pasar kopi spesialti di Brasil sedang tumbuh pesat, pemerintah dapat memfasilitasi petani muda dalam mengembangkan micro-lot coffee, memperkuat branding geografis seperti Gayo, Toraja, dan Kintamani, serta mendorong sertifikasi keberlanjutan agar kopi Indonesia mampu bersaing di segmen premium.
Dukungan terhadap inovasi dan kewirausahaan kopi anak muda juga menjadi kunci. Pemerintah perlu memperluas akses pembiayaan UMKM, membangun inkubator bisnis kopi, serta menyediakan pelatihan roasting dan coffee cupping agar generasi muda tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelaku industri kopi bernilai tambah. Momentum kerja sama dengan Brasil juga dapat dimanfaatkan untuk riset kolaboratif terkait ketahanan tanaman, adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga efisiensi pascapanen dengan melibatkan universitas dan lembaga riset agrikultura, sehingga hasilnya bisa langsung diterapkan di lapangan.
Lebih jauh, kerja sama ini bisa menjadi medium diplomasi budaya untuk memperkenalkan cerita di balik kopi Indonesia, mulai dari nilai-nilai kearifan lokal, keberlanjutan, hingga peran perempuan petani kopi.
Pendekatan budaya semacam ini tak hanya memperkuat soft power Indonesia di dunia kopi, tetapi juga menegaskan bahwa diplomasi ekonomi dapat berjalan seiring dengan diplomasi budaya dan generasi muda sebagai penggeraknya.
Leave a Reply