Ketahanan pangan keluarga bisa terwujud dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Bahan pangan lokal bahkan bisa menjadi alternatif untuk memenuhi gizi pada masa 1.000 hari kehidupan sebagai periode emas pertumbuhan anak.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah menegaskan bahwa penguatan ketahanan gizi keluarga harus dimulai dari optimalisasi potensi lokal. Jika dimanfaatkan dengan baik, bahan pangan di sekitar rumah dapat menyediakan sumber bagi keluarga.
Pemanfaatan pangan lokal jauh lebih stabil dibandingkan ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah yang rentan terhadap fluktuasi harga dan distribusi.
“Pangan lokal khas Indonesia yang beranekaragam jenisnya berperan penting mendukung 1.000 Hari Pertama Kehidupan untuk memastikan anak tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Pangan lokal di sekitar kita jika dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi sumber gizi lengkap dan terjangkau bagi keluarga” kata Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu pada Kamis (24/10/2025), dikutip dari kemenppa.go.id.
Secara nutrisi, banyak pangan lokal yang layak disebut superfood berkelas dunia. Misalnya daun kelor, yang kandungan zat besi dan vitaminnya sangat vital untuk mencegah anemia pada ibu dan balita.
Demikian pula dengan umbi-umbian lokal, ikan air tawar, dan olahan fermentasi seperti tempe, yang menyediakan kombinasi energi, protein, dan mikronutrien penting. Pemanfaatan bahan-bahan ini memastikan kepadatan nutrisi tercapai tanpa membebani ekonomi keluarga.
Sudah saatnya keluarga mengubah paradigma, melihat pangan lokal bukan lagi sekadar pilihan cadangan, melainkan solusi strategis untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan anak. Keberlanjutan dan keterjangkauan adalah kunci untuk mempertahankan kualitas asupan gizi dalam jangka panjang.
Pewujudan kemandirian gizi keluarga dapat dimulai dari langkah-langkah praktis yang dilakukan secara mandiri, dimulai dari lingkungan terdekat. Upaya ini dapat diterapkan baik di desa maupun di kota.
Salah satu konsep yang bisa dikembangkan di wilayah perkotaan adalah urban farming, yaitu kegiatan bercocok tanam di dalam atau sekitar area perkotaan untuk memproduksi pangan dan kebutuhan sehari-hari. Urban farming dapat dilakukan di pekarangan rumah, atap bangunan, bahkan di dalam ruangan dengan memanfaatkan teknologi sederhana.
Sementara itu, di wilayah pedesaan, pemanfaatan pekarangan rumah juga dapat menjadi gerakan nyata untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah, keluarga dapat menanam sayuran, buah, atau tanaman obat yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga meningkatkan kesadaran gizi dan kemandirian pangan.
Hal itu sudah dibuktikan Vania Febriyantie, seorang urban farmer yang menekankan bahwa langkah sekecil apapun, seperti menanam sayur atau kelor di rumah, akan memberikan dampak besar bagi ketahanan gizi. Aktivitas ini tidak hanya menjamin ketersediaan bahan pangan segar yang bebas pestisida bagi anak, tetapi juga mengembalikan kesadaran akan proses pangan, dari menanam, mengolah, hingga berbagi hasil bumi.
Cuan dari Dapur dan Pekarangan
Ketahanan pangan keluarga tak hanya soal mencukupi kebutuhan gizi, tetapi juga bisa membuka jalan menuju kemandirian ekonomi. Bahan pangan lokal yang dulu dianggap sederhana kini justru menyimpan peluang bisnis bernilai tinggi.
Umbi-umbian, daun kelor, dan singkong, misalnya, bisa diolah menjadi produk kekinian yang diminati pasar. Contohnya, Makanan Pendamping ASI (MPASI) berbasis umbi yang difortifikasi tepung kelor atau snack sehat berbahan singkong. Produk-produk ini membuktikan bahwa kearifan lokal bisa berpadu dengan tren gaya hidup sehat masa kini. Dengan kemasan menarik dan strategi pemasaran digital, bukan tidak mungkin produk rumahan semacam ini menembus pasar yang lebih luas terutama di kalangan orang tua muda yang sadar gizi dan peduli bahan alami.
Namun, peluang tak berhenti di situ. Teknologi juga membuka ruang bagi edukasi dan kreativitas. Banyak orang tua muda kini menjadi edukator digital atau konten kreator, membagikan resep sehat berbahan lokal serta tips berkebun urban di media sosial. Gerakan ini tak hanya menularkan gaya hidup sehat, tetapi juga memperkuat ekosistem pangan berkelanjutan dari rumah ke rumah.
Di tingkat komunitas, muncul inisiatif seperti Kampung Sehat, yang berfungsi sebagai inkubator wirausaha mikro sekaligus ruang belajar kolektif. Di sana, warga saling berbagi hasil panen, bertukar bibit, dan mengembangkan produk pangan olahan. Gotong royong yang tumbuh dari dapur dan pekarangan ini membuktikan bahwa pangan lokal bukan sekadar bahan masak, melainkan fondasi ketahanan gizi sekaligus ekonomi keluarga.
Membangun ketahanan gizi melalui pangan lokal adalah investasi jangka panjang yang mendukung visi Indonesia Emas 2045. Ini bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan komitmen kolektif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Leave a Reply