Indonesia dan Bangladesh akan segera memulai kerja sama strategis di bidang pertanian, ditandai dengan rencana investasi besar dan pertukaran keahlian dari pihak Bangladesh.
Kolaborasi ini sangat penting mengingat sektor pertanian Indonesia menyumbang 12–13% PDB dan menyerap lebih dari 29 juta tenaga kerja. Dengan pasar domestik Indonesia yang besar dan posisi Bangladesh sebagai salah satu dari 10 produsen beras terbesar dunia, kerja sama ini berpotensi menjadi poros baru produksi pangan di Asia. Nilai potensi kerja sama diperkirakan mencapai ratusan juta dolar.
Rencana ini diketahui dalam kunjungan kehormatan Duta Besar Bangladesh, Md Tarikul Islam, yang diterima Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di Kementan pada 30 Oktober 2025.

Dubes Bangladesh Md Tarikul (kiri) dan Wamentan Sudaryono. (pertanian.go.id)
Dubes Tarikul Islam menyatakan minat besar para pelaku usaha Bangladesh untuk menjalin kemitraan bisnis di Indonesia. Mereka berencana datang dan berinvestasi di sektor pertanian, mencari peluang kemitraan manufaktur dan produksi untuk komoditas tanaman pangan, sayur-sayuran, dan lainnya.
Bangladesh memprioritaskan ketahanan pangan dan melihat kolaborasi ini sebagai kunci pengembangan produksi pangan berkelanjutan dan pertukaran pengetahuan. Untuk itu, mereka akan mendatangkan agro-entrepreneur besar dan mengharapkan pertukaran pakar pertanian dari Indonesia.
“Saya menyampaikan minat dari pelaku usaha tani Bangladesh untuk mengembangkan kemitraan bisnis dengan Indonesia. Mereka akan datang ke Indonesia dan ingin berinvestasi di sektor pertanian. Mereka mencoba mencari peluang untuk terlibat dalam kemitraan manufaktur serta produksi pertanian pada komoditas tanaman pangan, sayur-sayuran, dan komoditas lainnya,” ujar Tarikul dikutip dari pertanian.go.id.
Indonesia menyambut baik minat investasi ini. Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa Kementan terbuka untuk kerja sama di berbagai bidang, termasuk pangan dan energi. Skema yang didorong adalah B2B (business-to-business), dengan Kementan siap memfasilitasi kemitraan melalui BUMN pangan seperti Agrinas atau Danantara.
Selain tanaman pangan, Kementan membuka peluang besar di subsektor peternakan seperti susu dan daging sapi karena tingginya permintaan domestik dan ketergantungan pada impor, yang juga sejalan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kedua negara memiliki program prioritas yang sama dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan. Indonesia fokus pada swasembada beras, jagung, dan pengembangan perkebunan.
Kerja sama ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha lokal (petani, koperasi, UMKM). Kedatangan pengusaha Bangladesh menciptakan permintaan langsung untuk mitra dalam rantai pasok dari benih hingga pengolahan hasil.
Investasi Bangladesh dapat memodernisasi industri pengolahan pertanian. Pelaku usaha peternakan dapat menarik modal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu/daging sapi, serta mengembangkan inovasi di bidang pakan dan logistik.
Selain itu, pertukaran pakar memberi kesempatan bagi petani dan lembaga riset Indonesia untuk mempelajari sistem pertanian intensif, sementara produk Indonesia berpotensi menembus pasar Bangladesh. Masuknya investasi dan peningkatan produksi akan menggerakkan ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, dan menaikkan pendapatan petani.
Namun, kemitraan B2B menuntut kesiapan para pelaku usaha lokal. Pelaku usaha harus memperkuat legalitas dan kelembagaan. Produk harus disiapkan dengan standar kualitas internasional misalna sertifikasi mutu, bebas residu pestisida yang diminta pasar Bangladesh.
Investor memerlukan pasokan yang stabil dan besar. Pelaku usaha harus menjamin kontinuitas pasokan melalui konsolidasi lahan atau kemitraan antarpetani. Keterbukaan terhadap transfer teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sangat diperlukan.
Bagi peternak, fokus pada peningkatan kualitas genetik dan manajemen sanitasi. Untuk tanaman pangan, varietas harus sesuai standar ekspor atau kebutuhan manufaktur Bangladesh.
Kerja sama ini menempatkan pertanian sebagai alat strategis untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengamankan ketahanan pangan nasional.
Leave a Reply