Bayangkan kamu berada di sebuah ruangan dengan tiga puluh orang di dalamnya.
Dari seisi ruang kelas itu, hanya satu di antaranya yang berani membuka usaha sendiri atau menjadi wirausaha. Dua puluh sembilan sisanya masih menjadi bagian dari rantai pencari kerja, bekerja formal, atau pekerjaan lainnya. Padahal, di balik angka itu tersimpan ruang peluang yang luar biasa besar, terutama bagi generasi muda.
Menjadi wirausahawan berarti menjadi bos bagi diri sendiri, mengatur alur kerja sesuai visi pribadi, sekaligus membuka lapangan kerja bagi orang lain. Wirausaha memberi kebebasan untuk berinovasi, menentukan arah usaha, dan membangun nilai dari nol. Itu semua jarang bisa diperoleh dari pekerjaan konvensional.
Indonesia saat ini berada pada momentum strategis bonus demografi, dengan jumlah pemuda berusia 16–30 tahun mencapai 64,22 juta jiwa atau sekitar 24 persen dari total penduduk nasional (BPS, 2024).
Namun di tengah potensi besar itu, tantangan produktivitas dan kemandirian pemuda masih tinggi. Tingkat Pengangguran Terbuka di kelompok usia muda mencapai dua kali lipat rata-rata nasional. Di sisi lain, rasio wirausaha baru sekitar 3,47 persen, angka yang jauh di bawah negara maju yang sudah menembus angka 10 persen.
Artinya, siapa pun dari generasi muda yang berani memulai langkah kini sedang berdiri di depan peluang langka: menjadi bagian dari 1 di antara 30 yang bukan hanya bekerja, tapi menciptakan pekerjaan.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Warsito, Kamis (23/10/2025).
Kemenko PMK menyadari bahwa pemuda merupakan pilar utama perekonomian Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Warsito juga menilai, dengan rasio wirausaha yang masih di bawah 4 persen, Indonesia perlu mempercepat tumbuhnya wirausaha muda agar kemandirian ekonomi dapat terwujud.
“Pemuda adalah pilar utama perekonomian Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Rasio wirausaha kita masih di bawah 4 persen, sementara negara maju sudah di atas 10 persen. Artinya, kita harus mempercepat tumbuhnya wirausaha muda agar mampu mendorong kemandirian ekonomi,” ujar Warsito dikutip dari kemenkopmk.go.id.
Mengapa Ini Peluang Besar bagi Generasi Muda?
Pertama, masih banyak ruang kosong di pasar. Mengapa demikian?
Ketika rasio wirausaha hanya 3,47%, berarti dari setiap 100 orang Indonesia, hanya sekitar 3–4 orang yang berwirausaha (memiliki usaha sendiri). Sisanya sekitar 96–97 orang adalah calon konsumen, karyawan potensial, atau calon mitra bisnis.
Dengan kata lain, karena wirausahawan masih sangat sedikit, peluang pasarnya masih sangat luas. Angka kecil itu bukan hanya menunjukkan kekurangan jumlah pelaku usaha, tapi juga potensi besar bagi mereka yang berani mulai lebih dulu.
Di negara maju, ketika 10% penduduknya berwirausaha, ekosistem ekonomi lokal jadi lebih hidup. Produk lokal tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan ekonomi daerah mandiri. Di Indonesia, celah itu belum terisi. Itu sebabnya, anak muda bisa menjadi pioneer-nya.
Ketiga, preferensi masyarakat kini makin terbuka pada produk lokal. Coba perhatikan sepatu yang dipakai temanmu bisa jadi Compass atau Ventela. Di rak minimarket, jajanan seperti Silver Queen, Kopiko, hingga Kacang Dua Kelinci berdiri sejajar dengan merek luar negeri. Semua itu bukan produk impor, melainkan produk lokal.
Kualitas produk lokal sekarang tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Banyak merek dalam negeri yang berhasil membangun citra modern, berkelas, tapi tetap punya sentuhan khas Indonesia.
Tren konsumsi generasi muda pun mendukung arah ini. Mereka tak hanya mencari barang bagus, tapi juga produk yang punya makna dan cerita. Produk lokal biasanya menghadirkan asal-usul, keberlanjutan, cerita dan sosok di balik pembuatannya.
Melihat peluang besar wirausaha, generasi muda Indonesia bisa masuk dengan value-based entrepreneurship, bukan sekadar jual barang, tapi membawa narasi dan dampak sosial.
Keempat, akses teknologi dan informasi sudah tak lagi jadi penghalang. Jika dulu modal dan koneksi menentukan siapa yang bisa buka usaha, sekarang siapa pun bisa mulai dari nol dengan memanfaatkan platform digital. Inilah saat yang tepat bagi anak muda untuk memulai usaha, karena hambatannya kecil tapi peluang keberhasilannya besar
Terakhir, dunia kerja yang makin fleksibel. Otomasi dan AI mulai menggeser pekerjaan rutin. Namun di sisi lain, terbuka banyak peluang baru di sektor creative economy, green business, dan digital service. Anak muda yang punya ide dan kemampuan adaptasi tinggi bisa memimpin perubahan ini lewat wirausaha.
Rasio 3,47% bukan tanda stagnasi wirausaha Indonesia. Melainkan sebuah sinyal kuat yang belum digarap. Ketika banyak orang masih mencari pekerjaan, justru di situlah peluang bagi pemuda untuk menciptakan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain.
Leave a Reply