Indonesia sejak lama dikenal sebagai negeri kelapa. Indonesia menempati posisi sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, dengan produksi mencapai sekitar 2,9 juta ton per tahun menurut Badan Pusat Statistik. Beberapa daerah seperti Riau, Sulawesi Utara, Maluku, dan Jawa Tengah menjadi sentra utama penghasil komoditas ini.
Namun, sayangnya sebagian besar kelapa Indonesia masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Padahal, jika diolah menjadi berbagai produk turunan bisa bernilai lebih tinggi. Harga jualnya bisa meningkat hingga berkali-kali lipat. Hilirisasi kelapa dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai jual itu. Hilirisasi memungkinakn kelapa hasil panen mentah diubah menjadi produk siap pakai yang memiliki daya saing di pasar lokal maupun global.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan, nilai ekonomi kelapa dapat melonjak hingga seribu persen bila diolah. “Bayangkan, kelapa butir hanya tiga ribu rupiah. Tapi kalau sudah jadi coconut milk atau coconut water, nilainya bisa 40 sampai 50 ribu per butir. Inilah pentingnya hilirisasi dan harga petani yang adil,” kata Amran saat melepas ekspor produk kelapa dari Maluku Utara ke Tiongkok di Kabupaten Halmahera Utara, Minggu (27/10/2025), dikutip indonesia.go.id
Selain membuka pasar ekspor, hilirisasi juga memperkuat ekonomi lokal. Mentan juga menegaskan bahwa hilirisasi industri kelapa menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekspor komoditas perkebunan nasional. Dengan mengolah kelapa menjadi produk bernilai tinggi, potensi ekonomi sektor ini diperkirakan bisa mencapai Rp1.000 triliun per tahun.
“Saat ini ekspor kelapa kita bernilai sekitar Rp24 triliun per tahun. Jika dihilirisasi secara maksimal, nilainya bisa melonjak hingga 50-100 kali lipat, mencapai Rp1.000 triliun atau lebih. Ini adalah visi besar Presiden yang sedang kita wujudkan,” ujarnya.
Pemerintah sudah menyiapkan program pengembangan 10.000 hektare lahan kelapa di Maluku Utara mulai tahun 2026, yang akan dibagi di beberapa kabupaten. Dukungan tersebut diberikan sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan berbasis daerah.
Sebagai tanaman tropis serbaguna, hampir seluruh bagian pohon kelapa memiliki nilai ekonomi. Misalnya buah kelapa menghasilkan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO) yang dimanfaatkan untuk kuliner, kosmetik, hingga pengobatan alami.
Tempurung kelapa diolah menjadi arang aktif untuk filter air, kosmetik, bahkan bahan baku baterai ramah lingkungan. Sabut dan serat kelapa digunakan industri otomotif dan furnitur sebagai bahan jok serta kasur alami. Di industri kuliner, santan cair dan serbuk kelapa menjadi bahan baku ekspor yang kini menghiasi rak pasar modern di Eropa.
Produk-produk tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi kelapa bukan hanya memperpanjang rantai nilai ekonomi, tetapi juga memperluas peluang ekspor. Negara tujuan utama ekspor produk kelapa Indonesia meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, dan Korea Selatan, dengan Tiongkok menempati posisi teratas dalam volume impor setiap tahun.
Peningkatan nilai tambah tidak hanya menguntungkan industri besar, tetapi juga berpotensi mengangkat kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.
Industri olahan kelapa juga membuka lapangan kerja baru di desa. Mulai dari proses pengupasan, pengeringan, pengemasan, hingga ekspor. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya memperkuat daya saing ekonomi nasional, tetapi juga memperkokoh struktur ekonomi perdesaan melalui penciptaan rantai pasok yang inklusif.
Upaya Strategis Pemerintah

Virgin Coconut Oil (VCO), salah satu contoh produk olahan kelapa yang dimanfaatkan untuk kuliner, kosmetik, hingga pengobatan alami. (kehutanan.go.id)
Agar petani dapat mengambil bagian dalam peluang ini, sejumlah langkah strategis perlu dilakukan.Peningkatan kualitas produksi melalui peremajaan pohon, penggunaan varietas unggul, serta penerapan teknik panen yang tepat agar mutu buah tetap tinggi.
Petani perlu bergabung dalam koperasi atau kelompok usaha bersama untuk memudahkan akses modal, teknologi, dan pasar. Penggunaan alat sederhana seperti mesin parut, pengering, atau alat pembuat VCO mini bisa menjadi awal bagi transformasi petani menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang siap ekspor.
Produk ekspor menuntut standar ketat, mulai dari kebersihan, kemasan, hingga sertifikasi halal, organik, dan keamanan pangan. Dengan begitu, pemenuhan standar mutu dan sertifikasi juga harus diperhatikan.
Dengan dukungan pelatihan, teknologi, dan kebijakan yang berpihak, petani kelapa dapat naik kelas menjadi pelaku usaha mandiri yang berdaya saing di pasar global.
Di sisi lain, di balik peluang besar hilirisasi kelapa, terdapat sejumlah tantangan mendasar. Banyak kebun kelapa telah berusia tua dan produktivitasnya menurun. Teknologi pengolahan belum merata di daerah, sementara akses pembiayaan masih terbatas bagi petani kecil. Selain itu, standar mutu ekspor yang semakin ketat menuntut peningkatan kualitas dan konsistensi produk.
Namun, justru di titik inilah peluang strategis terbuka. Tren global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk alami, ramah lingkungan, dan berkelanjutan Dengan inovasi dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri kelapa olahan dunia.
Hilirisasi kelapa bukan sekadar upaya industrialisasi sektor pertanian, melainkan gerakan nasional untuk mengubah cara pandang terhadap nilai tambah sumber daya alam. Hilirisasi kelapa menuntut sinergi antara petani, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha agar potensi kelapa tidak berhenti di tahap produksi mentah.
Jika kolaborasi ini berjalan, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai produsen kelapa terbesar di dunia, tetapi juga sebagai pemimpin dalam inovasi dan ekspor produk kelapa bernilai tinggi.
Leave a Reply