Pasar produk halal dunia kini berkembang pesat dan membuka peluang baru bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) Indonesia. Mengutip kemenag.go.id, laporan State of the Global Islamic Economy Report 2024/2025, mencatat konsumsi umat Islam di dunia untuk 6 sektor ekonomi syariah, yakni makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, busana muslim, pariwisata ramah muslim, media dan ekonomi kreatif, mencapai USD 2,43 triliun tahun 2023 dan diprediksi meningkat menjadi USD 3,36 triliun pada 2028.
Sementara di Indonesia, berdasarkan Indonesia Halal Markets Report 2021/2022, Indonesia termasuk salah satu eksportir makanan, fesyen, farmasi, dan kosmetik ke negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tahun 2020. Menurut laporan itu, Indonesia sebenarnya bisa memperoleh porsi perdagangan yang jauh lebih besar dari peluang ini.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku UMKM Indonesia untuk masuk ke rantai pasok global. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan beragam produk lokal yang potensial, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi halal dunia.
Namun, untuk bisa bersaing di pasar internasional, produk-produk tersebut perlu memiliki jaminan sertifikasi halal. Sertifikasi inilah yang menjadi “paspor dagang” bagi UMKM untuk menembus pasar yang lebih luas dan mendapatkan kepercayaan konsumen global.
Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Muhammad Aqil Irham, menegaskan bahwa percepatan sertifikasi halal menjadi langkah penting agar UMKM Indonesia tidak tertinggal dari negara lain.
“Produk halal kini terus berkembang dan dikembangkan oleh siapa saja dan dari negara mana saja. Jika UMKM kita tidak segera bersertifikat halal, maka akan tertinggal,” ujarnya, Minggu (26/10/2025) dikutip dari Antara.
Dengan percepatan sertifikasi halal, produk UMKM Indonesia bukan hanya akan diterima lebih baik di dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang ekspor yang lebih besar. Potensi ini bisa meningkat pesat jika semakin banyak UMKM yang memanfaatkan momentum ekonomi halal. Sebab, di balik label halal, tersimpan nilai kepercayaan dan standar kualitas yang diakui dunia.
Melihat peluang produk halal di atas, bagaimana cara UMKM bisa mulai dari langkah kecil dan perlahan naik kelas menembus pasar global? Mari kita urai dari produk halal dengan potensi terbesar dan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari Muslim.
1. Makanan dan Minuman Halal
Indonesia punya kekayaan bahan pangan tropis, rempah, dan kuliner lokal yang bisa diolah dengan standar halal modern. Tren global menunjukkan permintaan tinggi untuk ready-to-eat food, snack sehat, plant-based food, dan produk instan halal.
Negara-negara non-Muslim seperti Korea Selatan, Jepang, dan Australia mulai membuka pasar halal tourism dan kuliner halal.
Coba amati tren makanan halal di marketplace global (Tokopedia Global, Shopee Export, Alibaba, HalalTradeZone). Cari tahu apa yang diperhatikan pembeli saat beli produk makanan. Apakah label, bahan, kebersihan, harga. Lalu cari tahu produsen lokal yang sudah bersertifikat halal di sekitar, kemudian pelajari perbedaan kemasan, izin edar, dan brandingnya.
2. Fashion Halal
Tren modest fashion (busana sopan dan tertutup) berkembang pesat, bahkan di pasar non-Muslim. Indonesia punya banyak perajin batik, tenun, dan hijab yang bisa dikembangkan dengan konsep sustainable & halal lifestyle.
Coba lihat tren fesyen di Instagram, Pinterest, atau marketplace seperti Hijup, ZALORA, dan Tokopedia Fashion Muslim. Lalu survei kecil ke pelanggan perempuan muda atau teman sekitar. Bahan atau kain seperti apa yang mereka suka? Lalu perhatikan produk yang laku keras di bazar Ramadhan atau fashion event lokal.
3. Kosmetika dan Perawatan Diri Halal
Konsumen utamanya anak muda, kini lebih sadar bahan atau kandungan dalam skincare mereka, terutama generasi muda Muslim. Permintaan tinggi untuk skincare natural, vegan, dan halal-certified. Misalnya, merek-merek lokal seperti Wardah, Emina, dan Azarine sukses menarik perhatian generasi muda lewat kampanye produk halal yang natural, ringan, ramah kulit, dan terjangkau.
Produk serum berbahan alami seperti niacinamide, centella asiatica (daun pegagan), dan aloe vera kini jadi primadona di kalangan remaja hingga mahasiswa karena dianggap aman, halal, dan ramah lingkungan.
Di sisi lain, tren skincare vegan juga tumbuh pesat. Beberapa brand baru seperti Somethinc dan Avoskin mulai menonjolkan bahan plant-based serta label “halal certified” di kemasannya untuk memperluas pasar ke konsumen Muslim muda.
Untuk memulai berkarya di produk ini, coba amati produk kosmetik halal lokal seperti Wardah, Emina, Azarine apa kekuatan dan cara komunikasinya.
Survei teman atau pelanggan tentang produk lokal yang mereka percaya dan alasan mereka beli. Coba cari tahu bahan alami lokal yang bisa diolah secara sederhana. Misalnya minyak kemiri, kopi, beras, dan madu.
Kunjungi pasar tradisional atau toko bahan jamu untuk menanyakan bahan yang sering digunakan perawatan kulit. Kamu juga bisa eksperimen kecil di rumah, seperti membuat lulur kopi atau masker beras, sambil mengamati daya tahannya, aromanya, dan hasil di kulit.
Jika hasilnya menjanjikan, uji coba ke teman dekat untuk mendapatkan umpan balik jujur sebelum mulai produksi kecil-kecilan. Dokumentasikan prosesnya dengan foto atau video agar bisa jadi bahan promosi di media sosial.
Leave a Reply