“Ekosistem dakwah yang sehat harus mendorong toleransi, memperkuat moderasi, dan membuka ruang kreativitas. Kami ingin Gen Z tidak hanya menjadi penonton perubahan, tapi pelaku utama dalam menebarkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.” — Dirjen Bimas Kemenag, Abu Rokhmad.
Konten receh, gosip selebritas, dan komentar nyinyir setiap hari memenuhi linimasa media sosial. Dunia digital yang seharusnya jadi ruang berbagi gagasan, kini sering berubah jadi arena saling serang.
Padahal, Indonesia yang beragam butuh lebih banyak narasi yang menenangkan dan menyatukan. Media sosial seharusnya bisa menjadi ruang yang menyejukkan lewat literasi toleransi. Literasi dalam hal ini tidak sekadar merujuk pada artikel, melainkan juga konten multiplatorm, film, audio, hingga karya seni lain. Literasi toleransi tak lain bukan membangun hubungan harmonis, mencegah konflik, menumbuhkan sikap saling menghargai, serta mendukung persatuan bangsa.
Dalam konteks ini, peran media dan insan pers menjadi sangat penting. Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ismail Cawidu menegaskan bahwa media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pendidik publik.
“Sebagai edukator, salah satu fungsi media adalah memberikan pendidikan kepada masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers bertema “The Wonder of Harmony” di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (5/11/2025) dikutip dari laman kemenang.go.id.
Menurut Ismail, media perlu menjalankan fungsi edukasi, ruang dialog, dan pengawasan sosial untuk membangun pemahaman yang benar tentang toleransi. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah terpecah oleh isu SARA atau perbedaan pandangan.
Tapi di era digital, tanggung jawab menyebarkan nilai toleransi tak hanya milik media arus utama. Generasi muda, terutama Gen Z, kini punya peran besar karena merekalah yang paling aktif di dunia digital.
Gen Z hidup di tengah banjir informasi dan budaya populer yang berubah cepat. Mereka terbiasa berpikir visual, berkomunikasi singkat, dan menyebarkan pesan dengan cara kreatif. Karena itu, Gen Z berpotensi besar menjadi penggerak narasi toleransi yang relevan dan bisa diterima oleh sesama anak muda.
Mengapa Harus Generasi Muda?
Generasi muda tumbuh di era ketika perbedaan bukan lagi hal baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Di kampus, komunitas, atau media sosial, mereka berinteraksi dengan berbagai latar belakang agama dan budaya. Bahkan interaksi yang tanpa batas.
Jika generasi muda bisa mengubah kebiasaan online dari sekadar hiburan menjadi ruang saling menghargai, maka mereka sedang menanam nilai toleransi dengan cara yang sederhana tapi efektif.
Selain itu, generasi muda khususnya Gen Z memiliki pengaruh yang kuat. Mereka menentukan tren, membentuk opini publik, dan punya daya sebar pesan yang sangat cepat.
Jika generasi ini aktif memproduksi konten yang membawa pesan damai, empati, dan persatuan, narasi positif akan lebih mudah bersaing dengan konten yang memecah belah.
Konten yang Kreatif dan Tren Jadi Kekuatan
1. Melalui konten kreatif di media sosial.
Ceritakan pengalaman lintas agama, kisah gotong royong, atau kegiatan sosial dengan gaya visual yang menarik. Konten seperti ini bisa menyentuh banyak orang tanpa harus menggurui.
2. Lewat film, musik, dan karya seni.
Nilai-nilai keberagaman, toleransi, dan kasih sayang antarumat yang luhur dapat disampaikan melalui racikan narasi, visual, dan audio yang dapat dinikmati khalayak. Melalui karya visual dan musik, generasi muda bisa menyampaikan pesan kebersamaan dan kemanusiaan dengan asyik sesuai hobi mereka.
3. Berpartisipasi dalam ruang kolaboratif.
Kemenag kini mengembangkan berbagai kegiatan seperti festival seni budaya Islam dan kompetisi film dakwah moderat untuk menampung kreativitas anak muda. Ruang seperti ini penting agar generasi muda merasa memiliki wadah untuk berkarya dengan pesan positif.
4. Menjadi pelaku literasi digital.
Tidak hanya media, generasi muda sebagai pengguna media sosial juga bisa memulai langkah ini dari hal kecil. Misalnya berhenti menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, berani menegur teman yang menyebar kebencian, dan aktif membagikan informasi edukatif tentang keberagaman.
Melihat apa yang tengah digaungkan pemerintah, Indonesia membutuhkan lebih banyak suara muda yang berani menyebarkan kesejukan. Generasi muda tidak harus menunggu posisi atau jabatan untuk berbuat. Cukup mulai dengan karya dan konten yang menumbuhkan empati.
Toleransi bukan hanya urusan kebijakan pemerintah, tapi juga pilihan setiap orang untuk menghargai perbedaan. Di tangan Gen Z, pesan damai bisa hadir dalam bentuk video 30 detik, lagu, komik, atau film pendek. Sesederhana itu, tapi bisa berdampak besar. Sekarang saatnya anak muda mengambil peran. Karena menebar toleransi bukan sekadar tugas moral, melainkan cara paling nyata menunjukkan cinta pada Indonesia yang beragam.
Leave a Reply