Sinyal Kebangkitan Tekstil Dalam Negeri

Ilustrasi baju bekas (Unsplash)

Selama bertahun-tahun, industri tekstil Indonesia pelan-pelan kehilangan napasnya. Pabrik-pabrik gulung tikar, konveksi kecil beralih profesi, dan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian. Di saat yang sama, pasar dalam negeri dibanjiri pakaian bekas impor—lebih murah, lebih bervariasi, dan lebih cepat laku. Fenomena balpres atau baju bekas dalam karung padat itu membuat produk buatan lokal seolah tak punya tempat lagi di negeri sendiri.

Namun roda sedang berputar. Pemerintah mulai menegakkan aturan lama yang terlupakan: menutup rapat jalur impor ilegal pakaian bekas dan mengembalikan peluang kepada produsen tekstil dalam negeri.

Para pedagang baju bekas alias thrifting diminta tidak lagi melakukan importasi secara ilegal dan diarahkan untuk kembali membeli produk dari produsen dalam negeri. Pemerintah menegaskan, langkah ini bukan sekadar menertibkan perdagangan, tetapi juga bagian dari upaya besar untuk menghidupkan kembali industri tekstil nasional yang sempat tertekan oleh maraknya impor baju bekas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah akan menindak tegas importir yang masih nekat membawa masuk pakaian bekas secara ilegal.

Upaya itu direspon Anggota Komisi VI DPR RI Imas Aan Ubudiyah. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Menkeu. Menurutnya, langkah ini dinilai menjadi angin segar bagi industri tekstil nasional untuk bertahan dari gempuran barang bekas impor di pasar dalam negeri.

“Kami mendukung langkah Menkeu untuk menghentikan peredaran pakaian bekas dengan memasukkan para pemasok ke dalam daftar hitam importir. Ini langkah strategis untuk memutus mata rantai peredaran pakaian bekas di Indonesia,” ujar Imas Aan dikutip dari laman dpr.go.id.

Selama beberapa tahun terakhir, membanjirnya pakaian bekas dari luar negeri yang dikenal dengan istilah balpres, telah menggerus pasar produk dalam negeri. Padahal, Indonesia memiliki rantai pasok tekstil yang cukup kuat, dari produsen kain hingga industri konveksi rumahan.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) juga menyampaikan, penyelundupan baju bekas ke Indonesia telah merugikan negara hingga Rp1 triliun per tahun.

Peluang Baru bagi Pengusaha Muda

Larangan impor baju bekas justru bisa membuka ruang besar bagi generasi muda untuk menciptakan ekosistem fashion lokal yang lebih kuat. Pengusaha muda kini memiliki kesempatan untuk mengembangkan merek fashion berbasis kain lokal, bekerja sama dengan konveksi, penjahit, dan perajin kain daerah.

Selain itu, tren thrifting yang sempat populer bisa dialihkan ke arah upcycling, mengubah kain sisa, stok lama, atau pakaian tidak terpakai menjadi produk baru dengan nilai estetika dan ekonomi tinggi. Model bisnis ini bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga sejalan dengan semangat ekonomi sirkular yang kini tengah digalakkan secara global.

Dengan kreativitas dan inovasi digital, pengusaha muda juga bisa memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce untuk memperluas pasar produk lokal tanpa harus bergantung pada impor.

Dengan pasar domestik sebesar Indonesia, peluang tumbuh sebenarnya sangat besar asal ada kolaborasi antara kebijakan pemerintah, inovasi pengusaha muda, dan kesadaran konsumen untuk lebih mencintai produk dalam negeri.

Menarik untuk dibaca

Bupati Nonaktif Pati Sudewo Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi Rp 3,8 M Proyek DJKA

SEMARANG,TAPALBATAS.co – Bupati nonaktif Pati, Sudewo, didakwa menerima suap dan gratifikasi dengan nilai total sekitar Rp3,8 miliar yang berkaitan dengan pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan infrastruktur…

Prabowo: Kemiskinan Harus Dihilangkan, Kalau Perlu Anggaran Polisi dan Pertahanan Dikurangi

MALANG,TAPALBATAS.co – Presiden Prabowo Subianto menegaskan kebijakan pemerintah untuk terus melakukan efisiensi anggaran negara sebagai upaya mempercepat penghapusan kelaparan, kemiskinan, dan kemiskinan ekstrem di Indonesia….

Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla, Pemkab Kudus Perkuat Mitigasi

KUDUS, TAPALBATAS.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, Jawa Tengah, menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) tahun 2026 sebagai langkah…

Diah Warih Sukses Pimpin Diwa Foundation, Ungkap Kisah Tragis Jadi Gerakan Sosial

SOLO,TANPABATAS.CO-Saat menjadi pembicara di acara diskusi puluhan organisasi masyarakat (ormas) Kota Surakarta, Jawa Tengah, pendiri Diwa Foundation, Diah Warih Anjari, beberkan keberhasilannya mengelola dan mengembangkan…

Instruksi Prabowo: Evaluasi Total MBG dan Tegaskan Tak Boleh Ada Penyimpangan

JAKARTA,TANPABATAS.co– Presiden Prabowo Subianto beri instruksi eveluasi menyeluruh terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan itu ditempuh sebagai bagian dari upaya memastikan program prioritas pemerintah…

Bagaimana Teknologi Mengubah Pasar Tenaga Kerja Asia Timur-Pasifik?

Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Robot dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah wajah pasar tenaga kerja. Ia telah…

Kala Lensa Kamera Menangkap Isu Kesehatan Mental

Di tengah perbincangan isu kesehatan mental oleh remaja dan meningkatnya kasus perundungan, sekelompok fotografer muda di Kota Surakarta memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka mengambil…

Cuan dari Komedi Sehari-hari

Tak hanya terbatas di atas panggung, komedi kini merambah dunia digital. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memungkinkan para komika untuk menjangkau audiens yang lebih…

Teknologi Pendidikan hingga Daerah Terpencil

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam kebangkitan suatu bangsa. Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan hal ini dalam berbagai kesempatan, menyampaikan bahwa pendidikan adalah kunci…

Mengenal Micro Creative Business, Peluang Anak Muda di Lautan Kreativitas

Micro creative business mengacu pada usaha skala kecil yang mengandalkan unsur kreativitas, ide orisinal, dan keunikan sebagai inti produk atau jasa. Daripada sekadar memproduksi barang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *